Konflik Iran-Israel Berpotensi Ganggu Pertumbuhan Ekonomi RI
📅 Jumat, 19 Apr 2024, 00:13 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Sumber: Bloomberg - KJ/ONES
JAKARTA - Konflik Iran dan Israel berpotensi mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia karena dapat memicu kenaikan harga energi dan inflasi. Konflik akan mengakibatkan ketidakpastian global yang berakibat pada gangguan pertumbuhan ekonomi.
"Jika ada konflik akan mengakibatkan ketidakpastian global yang berakibat pada pelemahan rupiah dan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi," kata analis ekonomi keuangan Rully Nova, di Jakarta, Rabu (18/4).
Seperti dikutip dari Antara, Rully menuturkan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini terbesar masih ditopang pengeluaran domestik terutama konsumsi masyarakat. Namun, dengan tren tingkat inflasi yang naik akan mengganggu tingkat konsumsi masyarakat, ditambah lagi dengan konflik Iran dan Israel yang akan mendorong lonjakan harga energi dan inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2024 sebesar 3,05 persen atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 102,99 pada Maret 2023 menjadi 106,13 pada Maret 2024.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah terus mencermati tingkat suku bunga, harga minyak, dan biaya logistik global serta penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari konflik Iran- Israel tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Yang sekarang kami jaga yang paling penting adalah biaya logistik. Nah, kalau biaya logistik kemarin sebelum ada konflik Iran-Israel saja sudah naik akibat (serangan) Houthi dan juga yang lain," katanya.
Jaga Biaya Transportasi
Airlangga menyatakan pemerintah berupaya menjaga biaya transportasi karena berpotensi terdampak kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) akibat tensi geopolitik dunia yang semakin memanas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pihaknya berharap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku bunga domestik dapat tetap terjaga di tengah ketidakpastian global saat ini.
Sementara itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menyarankan pelaku usaha maupun investor di bidang infrastruktur mengambil sejumlah langkah saat melaksanakan proyek infrastruktur secara rasional dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan serta melakukan hedging sebagai antisipasi dampak konflik Iran-Israel.
"Sambil menunggu tensi geopolitik di Timur Tengah mereda, pelaku usaha atau investor harus melaksanakan proyek infrastruktur secara rasional dengan tetap mengutamakan pada keselamatan dan keamanan," ujar Eko.
Dia juga mengatakan bahwa pelaku usaha dan investor juga perlu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan dampak dari konflik Israel-Iran dengan melakukan hedging. Jadi ketika pelaku usaha atau investor melaksanakan proyek infrastruktur sudah dilindungi dari risiko-risiko seperti fluktuasi nilai tukar rupiah.
Dengan melakukan hedging, walaupun nanti dari harga impornya mengalami kenaikan akibat nilai tukar mata uang, pelaku usaha sudah ada jaminan kontrak di awal bahwa harga mereka yang terima tidak terpengaruh oleh risiko kenaikan nilai tukar mata uang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!