Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemendikbudristek Tunggu Penjelasan Kemenkes soal PPDS Picu Depresi

📅 Kamis, 18 Apr 2024, 03:13 WIB | Oleh:
Kemendikbudristek Tunggu Penjelasan  Kemenkes soal  PPDS Picu Depresi Doc: Koran Jakarta/M.Ma'ruf
Ket. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek, Sri Suning Kusumawardani.

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan skrining terhadap 12 ribu dokter yang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Hasilnya, program PPDS itu memicu depresi di kalangan mahasiswa PPDS.

Salah satu penyebab yaitu beban kerja dalam program tersebut. Adapun Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunggu penjelasan dari Kemenkes.

"Kita sedang ingin mendengar langsung dari Kemenkes mengenai hasil tersebut," jelas Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek, Sri Suning Kusumawardani, usai acara Halal Bihalal, di Jakarta, Rabu (17/4).

Sri menuturkan, pihaknya berencana untuk berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran terkait hal tersebut. Hal itu diperlukan untuk mendapatkan informasi yang jelas mengenai hal tersebut.

Dia menambahkan, pihaknya juga ingin mendalami terkait biaya pendidikan. Meski begitu kajian terkait biaya pendidikan sebelumnya telah dilakukan dengan matang agar tak membebani.

"Itu kan sudah berupa kajian-kajian yang sudah dilakukan oleh semua pihak. Jadi semua sudah tahu mengenai hal tersebut. Jadi kita masih berencana untuk mendapatkan informasi yang clear dari Kemenkes mengenai berita tersebut," tuturnya.

Sri menyebut akan mengumpulkan dekan fakultas kedokteran. Agar dapat menuntaskan permasalahan yang ada. "Tentu nanti ada follow up-follow up yang lain," katanya.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menilai, skrining Kemenkes tersebut butuh pembanding. Menurutnya, depresi pada PPDS di luar negeri angkanya rata-ratanya 28.8 persen atau lebih sedikit dari data Kemenkes yang menunjukkan bahwa 22.4 persen peserta PPDS Indonesia mengalami gejala depresi.

"Akan baik kalau ada pembanding. Maksudnya metode yang sama dilakukan juga pada para peserta pendidikan yang lain. Kalau ada pembanding maka kita tahu apakah tingginya angka depresi memang hanya pada peserta program pendidikan dokter spesialis atau memang dunia pendidikan pada umumnya," terangnya.ruf/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Tiongkok Luncurkan Satelit ...
Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.