8 Aspek Penting Memastikan Keberlanjutan Industri Nikel dari Hulu ke Hilir
📅 Kamis, 28 Mar 2024, 11:31 WIB | Oleh: Tim PenulisDi sisi hulu, selama proses penambangan, emisi muncul dari proses langsung maupun tak langsung dari peralatan tambang maupun kebutuhan energi dalam pemrosesannya. Pengerukan lahan juga turut mengubah bentang alam sehingga dapat berdampak pada kehidupan liar di dalamnya.
Sementara, di sisi hilir, proses pengolahan nikel di smelter dengan metode pirometalurgi (melalui proses pembakaran) mengeluarkan emisi tinggi dan menghasilkan gas buang yang mencemari udara. Sementara, pengolahan dengan hidrometalurgi-ekstraksi nikel dengan larutan kimia, umumnya untuk menghasilkan bahan baku baterai-menghasilkan limbah yang berisiko mengotori air dan tanah.
Menurut Hanif, untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri nikel, perusahaan perlu memadukan sumber listriknya dengan sumber yang berasal dari energi terbarukan. Berinvestasi pada peralatan yang minim emisi) juga dapat menjadi solusi.
Tak hanya itu, perusahaan juga dapat mengelola ataupun mendaur ulang limbahnya agar bisa digunakan kembali. Contohnya dengan memproses gas buang dari smelter menjadi hidrogen yang dapat digunakan kembali sebagai sumber energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, proses pengelolaan dampak lingkungan itu menambah biaya sehingga sebagian besar perusahaan tambang di Indonesia pun cenderung menghindarinya. Tuntutan industri tambang "hijau", kata Hanif, hanya dipenuhi dengan penggunaan biodiesel yang diwajibkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)-itu pun memerlukan ongkos yang mahal.
Dalam aspek inilah industri nikel membutuhkan uluran tangan pemerintah.
"Kalau untuk dari pemerintah itu sendiri menurut saya, ya harus ada insentif untuk emission reduction (pengurangan emisi)," tukas Hanif.
Sebaiknya Anda baca juga:
3. Menciptakan tekanan dari konsumen
Putra dari Energy Shift Institute mengatakan, upaya untuk meningkatkan aspek kelestarian lingkungan industri nikel tak cukup dilakukan oleh pemerintah. Konsumen nikel Indonesia juga dapat turut serta menuntut proses penambangan dan pengolahan yang berkelanjutan.
Pengguna produk nikel Indonesia, misalnya, bisa mencontek kebijakan Uni Eropa yang mengharuskan penggunaan bioenergi dari komoditas bebas deforestasi dan dikelola secara berkelanjutan. Kebijakan tersebut memang menciptakan ketegangan dengan produsen kelapa sawit di Indonesia. Namun, pada akhirnya, aturan keras itu membuat kewalahan sehingga perusahaan harus menyesuaikan diri.
Putra mengatakan, tuntutan nikel berkelanjutan paling memungkinkan diajukan oleh produsen dan konsumen kendaraan listrik berikut komponennya-seperti baterai. Perusahaan produsen ini juga dapat mengajukan tuntutan bersama, meski pelaksanaannya tidak mudah karena ada tensi perdagangan antara Cina dan negara lainnya tengah memanas.
Cara lainnya yang dapat dilakukan, kata Putra, adalah tuntutan dari konsumen nickel pig iron (nikel hasil olahan untuk bahan baku baja tahan karat). Konsumen ini dapat menuntut pengusaha smelter untuk beroperasi lebih ramah lingkungan, termasuk mengolah bijih yang ditambang secara berkelanjutan.
"Sembari itu, tekanan juga sangat diperlukan untuk produk stainless steel dan turunannya," ujar Putra.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!