Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

8 Aspek Penting Memastikan Keberlanjutan Industri Nikel dari Hulu ke Hilir

📅 Kamis, 28 Mar 2024, 11:31 WIB | Oleh: Tim Penulis

Evaluasi ini, kata Krisna, juga perlu diikuti dengan kajian perbandingan menyeluruh: apakah keuntungan dari kebijakan insentif untuk smelter lebih besar dari manfaat ekspor bijih nikel.

"Bisa jadi ini malah lebih rugi daripada ekspor nikel mentah aja. Perlu dipikirkan apakah insentif-insentif ini sustainable mengingat trajectory hilirisasi menuju EV (dengan baterai nikel) sepertinya belum terlihat jelas," tambahnya.

Krisna turut menganjurkan pemerintah memperkuat kerja sama rantai pasok nikel antarnegara alih-alih melarang ekspor yang tak selamanya menguntungkan Indonesia.

"Seharusnya investasi yang masuk ke Indonesia terkait hilirisasi nikel bisa lebih bersaing dan (nikel Indonesia) diperebutkan perusahaan-perusahaan dari berbagai negara, alih-alih cuma dari beberapa negara saja. Keinginan Indonesia tergabung dengan OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) bisa jadi membantu, jika pemerintah Indonesia bisa merasionalisasi aturan-aturan investasi di negara-negara OECD," tutur Krisna.

7. Menyusun peta jalan yang matang

Baik Krisna maupun Putra mempertanyakan sejauh apa sebetulnya Indonesia bisa menerapkan hilirisasi nikel. Apalagi, menurut Putra, Cina tengah mengalami kelebihan pasokan baterai listrik.

"Aku rasa pertanyaan sekarang adalah roadmap seperti apa yang sebenarnya realistis bisa Indonesia capai untuk hilirisasi nikel, itu yang belum terjawab," ujar Putra.

Sementara, menurut Krisna, Indonesia perlu mengecek kembali sejauh mana minat investor mengembangkan hilirisasi nikel di Indonesia. "Jika tidak bisa sampai mobil, mungkin motor juga oke. Jika sampai batre, ya, sudah. Atau bahkan jika sampai stainless steel juga rasanya bukan hal buruk kok," kata dia.

Hanif dari UNSW Syndey berpendapat sudah waktunya pemerintah mencari turunan produk nikel lainnya yang berpotensi memberikan nilai tambah-tak melulu untuk baterai. Pasalnya, nikel banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari peralatan dapur sampai peralatan elektronik, hingga kebutuhan lain yang menyokong berbagai sektor industri.

8. Praktik pertambangan berkelanjutan

Dengan memadukan berbagai aspek di atas, menurut Hanif, sudah waktunya istilah sustainable mining practices (SMP) atau praktik tambang berkelanjutan tak hanya jadi jargon. Pengawasan dari Kementerian ESDM pun perlu diketat.

Indonesia dapat meniru negara-negara lain yang terbilang berhasil menerapkan praktik berkelanjutan. Hanif mencontohkan usaha Kanada yang melakukan elektrifikasi peralatan tambang dengan sumber energi biomassa.

Perusahaan juga bisa membeli International Renewable Energy Certificates. Sertifikat ini berguna untuk menunjukkan seberapa besar kapasitas listrik mereka berasal dari energi terbarukan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
Film Dokumenter Lisa Blackp...
Nasional
Kemenperin Dorong Gen Z Kem...
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.