Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kesuburan Warga di Sebagian Besar Negara Menurun

📅 Jumat, 22 Mar 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Kesuburan Warga di Sebagian Besar Negara Menurun Doc: AFP/PEDRO PARDO
Ket. Seorang balita berjalan bersama kedua orang tuanya di Beijing, beberapa waktu lalu. Tingkat kesuburan global yang dilihat dari jumlah rata-rata kelahiran per perempuan, telah turun dari sekitar lima anak pada tahun 1950 menjadi 2,2 pada tahun 2021.

WASHINGTON - Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet, pada Rabu (20/3), menyebutkan tingkat kesuburan di hampir semua negara akan terlalu rendah untuk mempertahankan tingkat populasi pada akhir abad ini, dan sebagian besar kelahiran hidup di dunia akan terjadi di negara-negara miskin.

"Tren ini akan menyebabkan kesenjangan baby boom dan baby bust di seluruh dunia. Ledakan tersebut terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan rendah yang lebih rentan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan politik," kata peneliti senior, Stein Emil Vollset, dari Institute for Health Metrics dan Evaluation (IHME) di Universitas Washington di Seattle, dalam sebuah pernyataan.

Dikutip dari The Straits Times, studi tersebut memproyeksikan 155 dari 204 negara dan wilayah di seluruh dunia atau 76 persen, akan memiliki tingkat kesuburan di bawah tingkat penggantian populasi pada tahun 2050. "Pada tahun 2100, angka tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 198, atau 97 persen," kata para peneliti.

Perkiraan tersebut didasarkan pada survei, sensus, dan sumber data lain yang dikumpulkan dari tahun 1950 hingga 2021 sebagai bagian dari Studi Beban Penyakit, Cedera, dan Faktor Risiko Global.

"Lebih dari tiga perempat kelahiran hidup akan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah pada akhir abad ini, dan lebih dari setengahnya terjadi di Afrika Sub-Sahara," kata para peneliti.

Menurut data, tingkat kesuburan global, jumlah rata-rata kelahiran per perempuan, telah turun dari sekitar lima anak pada tahun 1950 menjadi 2,2 pada tahun 2021.

Pada tahun 2021, 110 negara dan wilayah (54 persen) memiliki tingkat penggantian populasi di bawah tingkat penggantian populasi yaitu 2,1 anak per perempuan.

Mengkhawatirkan

Studi ini menyoroti tren yang sangat mengkhawatirkan di negara-negara seperti Korea Selatan dan Serbia, yang tingkat kesuburannya kurang dari 1,1 anak per perempuan, sehingga membuat mereka dihadapkan pada tantangan berkurangnya angkatan kerja.

"Banyak negara yang memiliki sumber daya terbatas akan bergulat dengan cara mendukung populasi termuda dan paling cepat berkembang di planet ini di negara-negara yang paling tidak stabil secara politik dan ekonomi, mengalami tekanan panas, dan sistem kesehatan yang terbatas di dunia," kata Vollset.

Meskipun menurunnya tingkat kesuburan di negara-negara berpenghasilan tinggi mencerminkan lebih banyak peluang pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan, para peneliti mengatakan, tren ini menandakan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses terhadap kontrasepsi modern dan pendidikan perempuan di wilayah lain.

"Selain itu, ketika populasi hampir di setiap negara menyusut, ketergantungan pada imigrasi terbuka akan menjadi penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi," kata Natalia Bhattacharjee dari IHME, salah satu penulis laporan itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.