Apakah Alam Semesta ini Multiverse?
📅 Kamis, 14 Mar 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ B. HOLWERDA / ESA
Beberapa cabang fisika modern termasuk teori kuantum dan kosmologi, menyatakan bahwa alam semesta mungkin hanyalah salah satu dari banyak cabang lainnya. Yang masih menjadi perdebatan adalah apakah ada alam semesta hidup lain selain yang ada sekarang ini yang dikenal dengan sebutan multiverse?
Selama ini manusia mengenal alam semesta yaitu seluruh alam mencakup kehidupan makhluk hidup, tata surya, dan galaksi yang berada di dalamnya. Di dalam alam semesta terdiri banyak benda luar angkasa seperti bintang, nebula, planet, galaksi dan beragam benda langit lainnya.
Selama ini, alam semesta dengan segala macam isinya dianggap tunggal (universe). Gagasan tentang multiverse atau multi alam semesta atau banyak dunia selama ini masih dalam kerangka fiksi ilmiah meski ada kemungkinan nyata yang dianggap serius dan diselidiki oleh beberapa ilmuwan.
Multiverse atau aneka semesta, jagat majemuk, alam semesta majemuk, atau multiversum adalah hipotesis berupa kemungkinan adanya beberapa kumpulan alam semesta termasuk alam semesta tempat kita tinggal.
Sarah Scoles seorang jurnalis sains dalam tulisannya di Scientific American mencoba mempertanyakan hipotesis tentang multiverse yang muncul di beberapa cabang fisika modern. Dalam mekanika kuantum misalnya, sebuah partikel berada dalam superposisi keadaan yang mungkin sekaligus, sampai seseorang mencoba mengukurnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada titik ini, kemungkinan-kemungkinan tersebut akan hilang dan satu kondisi fisik akan muncul di hadapan pengamat. Namun, penafsiran mekanika kuantum terhadap "banyak dunia" berpendapat bahwa semua keadaan yang mungkin ditunjukkan oleh pengukuran terjadi di alam semesta yang berbeda dengan masing-masing dengan versi pengamat yang berbeda.
Penafsiran tentang multiverse mungkin merupakan gagasan ilmiah paling terkenal. Dalam buku The Allure of the Multiverse: Extra Dimensions, Other Worlds, and Parallel Universes, fisikawan Paul Halpern dari Universitas Saint Joseph mengeksplorasi potensi realitas paralel ini serta sejarah dan evolusinya, filosofi dan wawasannya tentang hakikat sains.
Apa sebenarnya multiverse itu? Menurut Halpern ada berbagai gagasan berbeda tentang multiverse. Pertama gagasan budaya dan kedua gagasan ilmiah. Gagasan tersebut cenderung sangat berbeda. Ide-ide budaya berlaku dalam kehidupan manusia. Orang-orang bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika mereka pindah ke kota lain, mengambil pekerjaan lain, memutuskan untuk menekuni hobi berbeda, atau menjalin hubungan berbeda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka membayangkan jalan yang tidak mereka ambil dan mencoba membayangkan apa yang akan terjadi. Dalam sains, gagasan tersebut dapat dibagi menjadi multiverse kuantum dan multiverse kosmologis.
Multiverse kuantum adalah jawaban yang mungkin atas pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika pengukuran dilakukan dalam fisika kuantum, dan bagaimana kehidupan manusia terhubung dengan dunia kuantum. Hal ini dibahas pada 1957 oleh seorang mahasiswa pascasarjana muda, Hugh Everett III, dengan interpretasi banyak dunia.
Dia berspekulasi bahwa berbagai kemungkinan terpecah menjadi alam semesta yang berbeda dan bahwa manusia mengalami berbagai realitas tetapi tidak benar-benar mengetahui tentang doppelganger (kembaran) mereka.
Terakhir, ada multiverse kosmologis, yang merupakan gagasan bahwa proses yang disebut inflasi, perluasan pesat yang diyakini sebagai tahap awal alam semesta, relatif mudah dicapai di alam semesta awal dan di tempat lain dan terjadi setiap saat. Hal ini mengakibatkan alam semesta gelembung lain telah mengembang, dan alam semesta kita juga telah mengembang, sehingga saat ini gelembung-gelembung tersebut berada di luar jangkauan kita.
Belum Bisa Diuji
Parameter alam semesta tampaknya berada dalam kisaran yang tepat untuk terbentuknya galaksi, bintang, planet, dan kehidupan. Jika konstanta ini seperti kekuatan gravitasi, kekuatan interaksi elektromagnetik, dan sebagainya disesuaikan sedikit saja, maka planet dan kehidupan yang dikenal tidak akan pernah terbentuk.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!