2 Tahun Perang di Ukraina, 2 Hal Ini Selimuti Narasi Pro-Russia di Indonesia
📅 Minggu, 25 Feb 2024, 10:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara /M Risyal Hidayat
Rizqy Amelia Zein, Universitas Airlangga
Tepat 24 Februari dua tahun yang lalu, Rusia melancarkan serangan militer ke Ukraina. PBB memperkirakan sudah lebih dari 27 ribu warga sipil menjadi korban, baik meninggal dunia maupun terluka, dan sekitar 10 juta orang terpaksa mengungsi dan kehilangan tempat tinggal.
Hingga tulisan ini diterbitkan, perang masih berlanjut tanpa ada tanda-tanda akan segera berakhir. Meskipun perang ini diklaim berdampak secara ekonomi bagi Indonesia-setidaknya sempat disebut menjadi salah satu faktor kelangkaan pupuk dan minyak goreng-baik pemerintah maupun masyarakat tampaknya masih ragu-ragu mengecam Rusia dengan keras.
Calon presiden (capres) yang saat ini dinyatakan unggul versi hitung cepat dalam perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, Prabowo Subianto, sempat mengajukan proposal yang ganjil untuk mengakhiri perang. Usulannya yang paling problematik adalah pembentukan zona demilitarisasi dan penyelenggaraan referendum, yang dianggap lebih mewakili kepentingan Rusia. Proposal ini mengabaikan fakta bahwa invasi Rusia merupakan pelanggaran kedaulatan dan kejahatan kemanusiaan.
Narasi pro-Rusia justru sangat populer di Indonesia. Alih-alih bersolidaritas dengan rakyat Ukraina yang dijajah, banyak warganet di media sosial yang justru secara terbuka menunjukkan simpati mereka kepada Rusia. Sebagian besar dari mereka menunjukkan kekaguman terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, tetapi mempersepsikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dengan sangat negatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saya dan tim melakukan survei terhadap 1.044 responden pada Juni 2022 untuk meneliti faktor-faktor psikologis yang menjelaskan dukungan terhadap narasi pro-Rusia ini. Survei tersebut menemukan bahwa narasi pro-Rusia berkaitan dengan keyakinan konspiratif antisemit (prasangka negatif atau kebencian terhadap orang Yahudi).
Mengapa demikian?
Kampanye disinformasi agama
Sebaiknya Anda baca juga:
Rusia gencar melakukan upaya penyebaran disinformasi yang menarget audiens internasional, termasuk Indonesia.
Dalam perang modern, disinformasi berguna untuk menggalang dukungan dan rasa percaya, serta membelokkan dan menahan kritik dari masyarakat internasional.
Ekosistem disinformasi Rusia melibatkan beberapa kanal informasi. Beberapa di antaranya adalah siaran pers resmi pemerintah, media yang dikontrol negara, sumber-sumber proxy (perantara) yang tidak terkait langsung dengan pemerintah Rusia, dan penggunaan platform media sosial.
Yang paling ekstrem, Rusia juga terlibat aktivitas ilegal seperti peretasan, pencucian uang, dan pencurian identitas yang berkaitan dengan Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2016.
Merusak citra publik Zelenskyy biasanya menjadi inti dari kampanye disinformasi Rusia. Oleh karena itu, tak mengherankan jika Rusia menggunakan latar belakang Zelenskyy sebagai seorang Yahudi dan mantan komedian untuk menciptakan narasi yang menyudutkan karakternya.
Menariknya, disinformasi Rusia yang paling populer di Indonesia hampir selalu mengandung unsur agama. Di antaranya adalah isu bahwa Putin telah memeluk agama Islam, pasukan Ukraina membakar Al-Quran, seorang komandan dari Republik Chechnya menyatakan bahwa invasi Ukraina adalah perang suci melawan Barat yang jahat, dan masih banyak lagi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!