Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Vaksin Baru Dapat Obati Beberapa Penyakit Kanker Mematikan

📅 Senin, 19 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Vaksin Baru Dapat Obati Beberapa  Penyakit Kanker Mematikan Doc: Istimewa

Kanker pankreas merupakan jenis penyakit kanker yang paling mematikan. Vaksin baru dapat mengobati beberapa jenis kanker pankreas, kolorektal, dan bentuk penyakit mematikan lainnya.

Vaksin telah terbukti dapat mencegah infeksi virus papiloma manusia (HPV) yang bisa menimbulkan terjadinya kanker serviks. Yang teranyar, vaksin baru dapat mengobati penyakit seperti kanker pankreas, termasuk jenis kanker kolorektal, dan bentuk penyakit mematikan lainnya.

Vaksin yang menargetkan tumor dengan mutasi genetik spesifik pada pankreas dan kanker lainnya telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji coba tahap awal untuk kanker pankreas. Vaksin terapeutik eksperimental baru tampaknya menjanjikan bagi orang-orang dengan bentuk penyakit yang paling umum.

Vaksin ini pada awalnya menargetkan kanker pankreas, jenis penyakit kanker yang paling mematikan. Kanker ini berupa pertumbuhan sel yang tidak terkendali pada jaringan organ pankreas yang dapat diderita oleh siapa saja, namun orang berusia di atas 55 tahun ke atas lebih rentan mengalaminya.

Pada Januari lalu, para peneliti menerbitkan hasil uji coba fase 1 yang melibatkan orang-orang dengan kanker pankreas atau kolorektal bermutasi Kirsten rat sarcoma (KRAS). Mutasi KRAS onkogenik merupakan peristiwa besar pada kanker pankreas.

Mutasi tersebut memberi aktivasi permanen protein KRAS, yang bertindak sebagai saklar molekuler untuk mengaktifkan berbagai jalur sinyal intraseluler dan faktor transkripsi yang menginduksi proliferasi, migrasi, transformasi, dan kelangsungan hidup sel.

Para penyintas kanker pankreas itu memiliki risiko tinggi untuk kambuh dan menunjukkan tanda-tanda awal kebangkitan tumor. Vaksin baru ini yang disuntikkan, mengirimkan molekul penargetan tumor langsung ke kelenjar getah bening. Di sana, lalu mengaktifkan sel T, sel kekebalan yang memainkan peran penting dalam respons tubuh melawan penyakit.

Uji coba tersebut melibatkan 25 orang penderita kanker pankreas atau kolorektal yang sebelumnya telah menjalani operasi, tujuh diantaranya juga telah menerima terapi radiasi. Mereka diberi hingga 10 dosis vaksin yang dikenal sebagai ELI-002.

Dari uji coba yang didanai oleh perusahaan bioteknologi Elicio Therapeutics yang berbasis di Boston, Amerika Serikat (AS), hasil sangat menjanjikan karena sebanyak 84 persen dari seluruh peserta memiliki respons sel T yang positif. Dari semua peserta yang menerima dosis lebih tinggi juga memberi respons yang sama.

Ini hanyalah contoh terbaru bagaimana para ilmuwan menggunakan vaksin untuk melawan kanker yang umum namun mematikan. Vinod Balachandran dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center (MSK) dan rekan-rekannya, menggunakan teknologi mRNA seperti yang digunakan dalam vaksin Covid-19 untuk melawan kanker pankreas.

Hasil uji coba fase 1 mereka dipublikasikan di Nature Medicine pada Mei 2023. Dan pada Desember lalu, perusahaan Moderna dan Merck mengumumkan hasil positif dari studi terbaru mereka terhadap vaksin mRNA yang digunakan dalam kombinasi dengan obat imunoterapi Keytruda untuk mengobati melanoma.

American Cancer Society (ACS) memperkirakan bahwa lebih dari 66.000 orang di AS akan didiagnosis menderita kanker pankreas pada 2024. Lebih dari 51.000 orang diperkirakan akan meninggal karena penyakit tersebut.

Di negara itu, penyakit ini menyumbang sekitar 3 persen dari seluruh kanker dan sekitar 7 persen dari seluruh kematian akibat kanker. ACS memperkirakan hampir 153.000 orang di negara ini akan didiagnosa mengidap kanker usus besar dan kanker dubur pada 2024 ini. Sekitar 53.000 orang akan meninggal karenanya.

"Secara umum, kanker pankreas merupakan keganasan yang sangat menantang, dan bahkan dalam keadaan terbaik sekalipun jika kanker tersebut dapat dioperasi, terdapat risiko yang sangat tinggi untuk penyakit ini kambuh lagi," kata Eileen M. O'Reilly, seorang peneliti di bidang kanker pankreas ahli onkologi gastrointestinal di MSK, yang merupakan penulis senior studi ELI-002, kepada Scientific American.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.