Rasionalkah Percaya pada Intuisi? Simak Penjelasan Ahli Saraf
📅 Minggu, 18 Feb 2024, 15:11 WIB | Oleh: Tim PenulisTerlebih lagi, meskipun intuisi dianggap ceroboh dan tidak akurat, pemikiran analitis juga dapat merugikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa terlalu banyak berpikir dapat secara serius menghambat proses pengambilan keputusan.
Dalam kasus lain, pemikiran analitis mungkin hanya terdiri dari pembenaran post-hoc atau rasionalisasi keputusan berdasarkan pemikiran intuitif. Hal ini terjadi misalnya ketika kita harus menjelaskan keputusan kita dalam dilema moral. Efek ini membuat beberapa orang menyebut pemikiran analitis sebagai "sekretaris pers" atau "pengacara batin" dari intuisi. Seringkali kita tidak tahu mengapa kita mengambil keputusan, tetapi kita tetap ingin memiliki alasan untuk keputusan kita.
Percaya pada naluri
Jadi, haruskah kita hanya mengandalkan intuisi kita, mengingat intuisi itu membantu kita dalam mengambil keputusan? Ini rumit. Karena intuisi bergantung pada evolusi yang lebih tua, pemrosesan otomatis dan cepat, intuisi juga menjadi mangsa kesalahan, seperti bias kognitif. Ini adalah kesalahan sistematis dalam berpikir, yang dapat terjadi secara otomatis. Meskipun demikian, membiasakan diri dengan bias kognitif yang umum dapat membantu kita menemukannya di masa depan: ada tips yang bagus tentang cara melakukannya di sini dan di sini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Demikian pula, karena pemrosesan cepat adalah hal yang kuno, terkadang bisa sedikit ketinggalan zaman. Sebagai contoh, pertimbangkan sepiring donat. Meskipun kamu mungkin tertarik untuk memakan semuanya, tapi tidak mungkin kamu membutuhkan gula dan lemak dalam jumlah yang banyak. Namun, pada masa pemburu-pengumpul, menyimpan energi merupakan naluri yang bijaksana.
Jadi, untuk setiap situasi yang melibatkan keputusan berdasarkan penilaian kita, pertimbangkan apakah intuisi kita telah menilai situasi tersebut dengan benar. Apakah ini merupakan situasi lama atau baru yang berevolusi? Apakah situasi tersebut melibatkan bias kognitif? Apakah kamu memiliki pengalaman atau keahlian dalam situasi seperti ini? Jika situasi ini bersifat evolusioner, melibatkan bias kognitif, dan kita tidak memiliki keahlian dalam hal ini, maka andalkanlah pemikiran analitis. Jika tidak, jangan ragu untuk mempercayai pemikiran intuitif kita.
Sudah saatnya kita menghentikan perburuan intuisi, dan melihatnya apa adanya: gaya pemrosesan bawah sadar yang cepat, otomatis, dan dapat memberikan kita informasi yang sangat berguna yang tidak dapat diberikan oleh analisis yang disengaja. Kita harus menerima bahwa pemikiran intuitif dan analitik harus muncul bersamaan, dan ditimbang satu sama lain dalam situasi pengambilan keputusan yang sulit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rahma Sekar Andini dari Universitas Negeri Malang menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.![]()
Valerie van Mulukom, Senior Lecturer in Psychology, Oxford Brookes University
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!