Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rasionalkah Percaya pada Intuisi? Simak Penjelasan Ahli Saraf

📅 Minggu, 18 Feb 2024, 15:11 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rasionalkah Percaya pada Intuisi? Simak Penjelasan Ahli Saraf Doc: The Conversation/Valerie van Mulukom
Ket. Ilustrasi.

Valerie van Mulukom, Oxford Brookes University

Bayangkan seorang direktur perusahaan besar mengumumkan sebuah keputusan penting dan menjustifikasinya dengan hanya berdasarkan intuisi. Hal ini akan disambut dengan ketidakpercayaan - bukankah keputusan penting harus dipikirkan dengan hati-hati, sengaja dan rasional?

Memang, mengandalkan intuisi pada umumnya memiliki reputasi yang buruk, terutama di bagian Barat dunia, tempat pemikiran analitik telah terus dipromosikan selama beberapa dekade terakhir. Secara bertahap, banyak orang berpikir bahwa manusia telah berkembang dari mengandalkan pemikiran primitif, magis, dan religius menjadi pemikiran analitis dan ilmiah. Akibatnya, mereka memandang emosi dan intuisi sebagai alat yang keliru, bahkan aneh.

Namun, sikap ini didasarkan pada mitos kemajuan kognitif. Emosi sebenarnya bukanlah respons bodoh yang selalu harus diabaikan atau bahkan dikoreksi oleh kemampuan rasional. Emosi adalah penilaian terhadap apa yang baru saja dialami atau dipikirkan - dalam hal ini, emosi juga merupakan bentuk pemrosesan informasi.

Intuisi atau firasat juga merupakan hasil dari banyak proses yang terjadi di otak. Penelitian menunjukkan bahwa otak adalah mesin prediktif yang besar, yang secara konstan membandingkan informasi sensorik yang masuk dan pengalaman saat ini dengan pengetahuan yang tersimpan dan ingatan tentang pengalaman sebelumnya, dan memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini dijelaskan oleh para ilmuwan sebagai "kerangka kerja pemrosesan prediktif".

Hal ini memastikan bahwa otak selalu siap untuk menghadapi situasi saat ini seoptimal mungkin. Ketika terjadi ketidaksesuaian (sesuatu yang tidak diperkirakan), otak akan memperbarui model kognitifnya.

Pencocokan antara model sebelumnya (berdasarkan pengalaman masa lalu) dan pengalaman saat ini terjadi secara otomatis dan tanpa disadari. Intuisi terjadi ketika otak kita telah membuat kecocokan atau ketidakcocokan yang signifikan (antara model kognitif dan pengalaman saat ini), tetapi hal ini belum mencapai kesadaran sadar kita.

Sebagai contoh, mungkin kamu sedang mengemudi di jalan pedesaan dalam kegelapan sambil mendengarkan musik, ketika tiba-tiba kamu memiliki intuisi untuk mengemudi di satu sisi jalur. Ketika terus mengemudi, kamu menyadari bahwa kamu baru saja melewatkan sebuah lubang besar yang dapat merusak mobil kamu secara signifikan. Kamu senang karena telah mengandalkan intuisi meskipun kamu tidak tahu dari mana asalnya. Kenyataannya, mobil di kejauhan di depan kamu melakukan belokan kecil yang sama (karena mereka adalah penduduk setempat dan tahu jalan), dan kamu mengetahui hal ini tanpa sadar.

Apabila kamu memiliki banyak pengalaman dalam bidang tertentu, otak memiliki lebih banyak informasi untuk dicocokkan dengan pengalaman saat ini. Hal ini membuat intuisi kamu lebih dapat diandalkan. Ini berarti bahwa, seperti halnya kreativitas, intuisi kamu sebenarnya bisa meningkat seiring dengan pengalaman.

Pemahaman yang bias

Dalam literatur psikologi, intuisi sering kali dijelaskan sebagai salah satu dari dua cara berpikir secara umum, bersama dengan penalaran analitik. Pemikiran intuitif digambarkan sebagai otomatis, cepat, dan tidak disadari. Sebaliknya, pemikiran analitik bersifat lambat, logis, sadar, dan disengaja.

Banyak yang menganggap pembagian antara pemikiran analitis dan intuitif berarti bahwa kedua jenis pemrosesan (atau "gaya berpikir") tersebut berlawanan, bekerja dengan cara yang saling bertolak belakang. Namun, sebuah meta-analisis terbaru - sebuah investigasi atas dampak dari sekelompok penelitian diukur - telah menunjukkan bahwa pemikiran analitis dan intuitif biasanya tidak berkorelasi dan dapat terjadi pada waktu yang bersamaan.

Jadi, meskipun benar bahwa satu gaya berpikir cenderung terasa dominan di atas yang lain dalam situasi apa pun - khususnya pemikiran analitis - sifat bawah sadar dari pemikiran intuitif menyulitkan kita untuk menentukan dengan tepat kapan hal itu terjadi, karena banyak hal yang terjadi di bawah kesadaran kita.

Sesungguhnya, kedua gaya berpikir ini saling melengkapi dan dapat bekerja secara bersamaan - kami sering menggunakan keduanya secara bersamaan. Bahkan penelitian ilmiah yang inovatif dapat dimulai dengan pengetahuan intuitif yang memungkinkan para ilmuwan untuk merumuskan ide dan hipotesis inovatif, yang kemudian dapat divalidasi melalui pengujian dan analisis yang ketat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

55 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.