Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Indonesia Perlu Bangun Banyak Pabrik Panel Surya untuk Ekspansi Energi Surya

📅 Jumat, 16 Feb 2024, 12:38 WIB | Oleh: Tim Penulis

Ada juga pabrik PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) di Kendal, Jawa Tengah, yang direncanakan mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2024. Kapasitas produksinya 1 GWp per tahun. Meski patut diapresiasi, pembangunan pabrik sel surya ini masih belum mencukupi kebutuhan ekspansi PLTS Indonesia di masa depan.

Apa yang perlu dilakukan?

Dengan potensi pasar yang besar, Indonesia perlu melakukan penghiliran bahan mentah pasir kuarsa hingga menjadi produk akhir berupa panel surya. Hal-hal berikut perlu dilakukan agar Indonesia bisa bertransformasi menjadi salah satu produsen utama panel surya dunia:

1) Indonesia perlu menyiapkan peta jalan pembangunan industri panel surya dari hulu ke hilir. Investor akan memandang ini undangan penanaman modal ke Indonesia. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah menyetop ekspor pasir silika atau pasir kuarsa, sebagai langkah yang tepat untuk mengamankan pasokan bahan baku jangka panjang.

2) Libatkan akademisi, pakar sosiologi lingkungan, terutama masyarakat adat. Penyusunan kebijakan terkait pengembangan pabrik panel surya juga harus melibatkan aspek sosial serta lingkungan. Berkaca pada riuhnya protes dan kecaman terhadap rencana pembangunan industri panel surya di Rempang, Kepulauan Riau, penting bagi pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam program ekspansi industri panel surya di Indonesia. Pemerintah dapat mengundang akademisi, pakar sosiologi lingkungan, terutama masyarakat adat yang akan terdampak langsung pada aktivitas penambangan bahan mentah pasir silika hingga pabrik pengolahannya dan pembuatan panel surya.

3) Tenaga terampil dari dalam negeri perlu kita siapkan untuk mengelola industri panel surya. Jangan lagi bergantung atau mendatangkan tenaga asing. Anak bangsa harus menjadi tuan di negeri sendiri. Dengan potensi pasar serta sumber daya bahan baku yang besar, tenaga kerja terampil, Indonesia memiliki kemampuan untuk memproduksi panel surya sendiri dengan harga bersaing.

4) Menyiapkan pasokan energi bersih untuk pabrik panel surya. Untuk menaikkan nilai jual produk panel surya dan selaras dengan transisi energi di sektor industri, Indonesia perlu memastikan pabrik-pabrik panel surya menggunakan sumber energi bersih.

Harus diakui bahwa saat ini, sumber energi panel surya masih mengandalkan bahan bakar fosil. Meski demikian, menurut Badan Energi Internasional (IEA), panel surya hanya memerlukan waktu 4-8 bulan operasi untuk menyeimbangkan (offset) jejak karbon selama proses produksi. Setelahnya, listrik yang dihasilkan dari panel surya-dengan rata-rata umur pakai selama 25 tahun-merupakan listrik bersih tanpa emisi.

Listrik bersih dari panel surya ini kemudian dapat menjadi sumber energi pabrik pembuat panel surya. Dengan begitu, panel surya yang dihasilkan juga merupakan produk rendah karbon.

5) Insentif dan subsidi. Pemerintah perlu mencontoh India dan Amerika Serikat yang jor-joran memberikan insentif dan subsidi pabrik panel surya, agar menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar global. Tidak berlebihan jika insentif berupa libur pajak 30 tahun sebagaimana investasi di proyek ibu kota negara (IKN) juga diberikan untuk pabrik panel surya.

6) Kolaborasi. Pemerintah dapat mendorong kolaborasi dengan pabrik panel surya dari Cina-sebagai produsen terbesar panel surya di dunia saat ini-untuk membawa teknologi mereka dan membangun pabriknya di Indonesia. Contohnya, kolaborasi perusahaan Trina Solar Co. Ltd. dengan PT Dian Swastika Sentosa and PT Agra Surya Energy, dapat direplikasi lebih banyak lagi. Dengan cara ini, akan terjadi alih teknologi kepada tenaga kerja di Indonesia.

Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan Indonesia mampu menjadi pemain penting rantai pasok panel surya yang berkelanjutan. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, tapi juga ekspor.

Akhirnya, hal ini dapat berkontribusi pula pada pertumbuhan ekonomi hijau, penciptaan lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs), dan kemampuan transisi energi di Indonesia.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Naomi Siap Hadapi Elise Mertens

31 menit yang lalu | Opik

Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Olahraga
Crysencio Summerville

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

1 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.