Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Harus Berani Berantas 'Rent Seeker' dan Mafia Pangan

📅 Selasa, 13 Feb 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Harus Berani Berantas 'Rent Seeker' dan Mafia Pangan Doc: Sumber: BPS - KJ/ONES

JAKARTA - Pemerintah harus punya keberanian dan kemauan politik (political will) memberantas para rent seeker dan mafia pangan yang selama ini mendapat keuntungan terutama dari impor dan distribusi pangan. Perlunya memberantas mereka karena kelompok-kelompok tersebut terus berupaya mempengaruhi keputusan pemerintah agar lebih memilih impor pangan, ketimbang memacu produktivitas produksi dalam negeri.

Dengan impor, mereka mendapat keuntungan ditambah dengan biaya untuk mendistribusikan. Para distributor itu pun kerap mengatur pasokan sehingga terlihat langka di pasaran yang berakibat pada kenaikan harga dan pada akhirnya memaksa pemerintah menambah kuota impor yang menguntungkan mereka.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan kondisi tersebut makin parah karena harga beras di pasar global mencatat titik tertinggi dalam 15 tahun terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran dampak El Nino. Hal itu menyebabkan pasokan beras semakin ketat, apalagi beras merupakan makanan pokok miliaran penduduk di Asia dan Afrika.

Mengutip Bloomberg, Kamis (21/12), menurut Asosiasi Eksportir Beras Thailand, harga beras putih Thailand kategori white rice 5 persen broken, yang merupakan patokan Asia, naik 2,5 persen menjadi 650 dollar Amerika Serikat (AS) per ton pada Rabu (20/12) dibandingkan pekan sebelumnya.

"Tren harga beras di pasar global meningkat karena terbatasnya stok beras di pasar global. Ditambah larangan ekspor beras dari India, meski sudah agak longgar, tapi dampak supply beras berkurang masih terasa saat ini, sehingga Indonesia sebagai pengimpor beras terdampak juga dengan naiknya harga beras di pasar domestik," kata Esther.

Sebab itu, dia mengimbau Bulog segera melakukan operasi pasar karena stok beras di ritel mulai berkurang, bahkan di supermarket besar pun masih dibatasi pembelian maksimal 2 bungkus untuk kemasan 5 kilogram (kg). "Jika pemerintah menetapkan HET di RI itu hanya langkah sementara untuk memancing distributor beras mengeluarkan stoknya. Kendati demikian, itu belum efektif karena setiap kg yang masuk (impor-red) ada margin yang diambil untuk mafia," katanya.

Hal yang diharapkan sebenarnya adalah kebijakan jangka panjang untuk meningkatkan produksi beras hingga bisa mencapai swasembada beras. "Kalau yang sekarang ini bisnis untuk rent seeker, sehingga tidak ada good will untuk produksi beras sendiri, lebih suka impor (solusi praktis dan cepat serta menguntungkan untuk mafia itu). Menurut saya, solusinya harus jangka panjang, peningkatan produksi beras dalam negeri, regulasi yang kondusif untuk pembangunan sektor pertanian, peningkatan kapasitas produksi peningkatan kapasitas marketing dan menciptakan alternatif penghidupan untuk petani sehingga mempunyai pendapatan sampingan.

Tata Niaga

Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan mengingat beras adalah komoditi vital maka perlu perencanaan dan kebijakan strategis yang mendukung kelancaran produksi dalam negeri dan distribusi (tata niaga).

"Hal ini penting, bukan hanya harganya stabil, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani yang tecermin di antaranya dalam kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP)," ungkap Awan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.