Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pertumbuhan Ekonomi RI pada 2023 Belum Maksimal

📅 Selasa, 06 Feb 2024, 00:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pertumbuhan Ekonomi RI pada 2023 Belum Maksimal Doc: ANTARA/Imamatul Silfia
Ket. Tangkapan layar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti dalam Diskusi Publik Ekonom Perempuan Indef yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (28/12/2023).

Jakarta - Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2023 belum maksimal sebab masih mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai sumber utama pertumbuhan dari sisi pengeluaran.

"Menurut saya, pertumbuhan 5 persen ini belum maksimal. Kenapa? Karena mesin pertumbuhannya baru konsumsi rumah tangga. Sementara investasi, ekspor, itu belum. Government spending juga masih kurang," kata Esther saat dijumpai ANTARA di Jakarta, Senin.

Pada Senin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,05 persen secara kumulatif sepanjang 2023. Konsumsi rumah tangga tumbuh menjadi 4,82 persen pada 2023, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 2,55 persen.

Esther memandang bahwa konsumsi rumah tangga tidak dapat selamanya diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Hal itu sudah terbukti pada saat pandemi COVID-19 di mana Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi.

"Ketika COVID-19, semua mobilitas terbatasi maka konsumsi juga akan terbatas sehingga itu membuat pertumbuhan ekonomi kita nyungsep. Coba kalau pada saat itu masih ada mesin pertumbuhan ekonomi investasi, ekspor tetap jalan, atau pengeluaran pemerintah tetap jalan maka saya rasa tidak terlalu nyungsep," kata dia.

Sementara itu dari sisi produksi, BPS mencatat industri pengolahan atau manufaktur menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 0,95 persen. Pertumbuhan industri pengolahan disebut terdorong oleh kuatnya permintaan domestik dan global.

Terkait hal itu, Esther juga memandang bahwa pertumbuhan sektor industri pengolahan tetap perlu dipacu. Dia menyampaikan kekhawatirannya atas fenomena deindustrialisasi dini.

Di sisi lain, menurut Esther, investasi yang masuk ke industri pengolahan juga cenderung padat modal. Padahal, Indonesia membutuhkan investasi padat karya di sektor tersebut sehingga harapannya dapat mengurangi angka pengangguran.

"Untuk sektornya yang harus di-generate lebih banyak adalah industri manufaktur. Tetapi kita mengalami deindustrialisasi dini. Kenapa industri manufaktur? Karena padat karya," katanya.

"Orang butuh kerja lebih banyak, lapangan pekerjaan agar lebih banyak. Sementara investasi yang masuk, menurut data, ini belum ramah untuk pasar tenaga kerja. Mereka lebih banyak padat modal," kata Esther.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra2
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Nasional
KAI Commuter Terapkan Tarif...
Ekonomi
Menko Ekonomi Targetkan Kre...

Pos Indonesia Disebut Gagal Bayar Sukuk dan Minta Restrukturisasi

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Ekonomi
Pos Indonesia Disebut Gagal...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Pos Indonesia Disebut Gagal Bayar Sukuk dan Minta Restrukturisasi

Pos Indonesia Disebut Gagal Bayar Sukuk dan Minta Restrukturisasi

13 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.