Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Guru Besar UPH Ungkap Bioremediasi Ramah Lingkungan Tangani Limbah Tembaga

📅 Sabtu, 27 Jan 2024, 10:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Guru Besar UPH Ungkap Bioremediasi Ramah Lingkungan Tangani Limbah Tembaga Doc: ANTARA/HO-UPH
Ket. Dosen Pendidikan Biologi dari Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof Wahyu Irawati saat dikukuhkan sebagai guru besar UPH beberapa waktu lalu.

TANGERANG - Dosen Pendidikan Biologi dari Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof Wahyu Irawati mengatakan metode pengelolaan limbah biologis dengan menggunakan konsorsium bakteri sebagai agen bioremediasi menjadi pilihan yang ramah lingkungan dalam menangani limbah tembaga.

Dalam keterangannya di Tangerang pada Sabtu (27/1), ia mengatakan, tingkat keberhasilan metode pengelolaan limbah biologis dengan menggunakan konsorsium bakteri sebagai agen bioremediasi sangat dipengaruhi oleh adanya interaksi sinergis atau antagonis antara populasi bakteri yang berbeda dalam limbah.

"Penelitian ini memang harus melewati proses panjang sebelum diterapkan di industri, tetapi jadi angin segar dalam menunjang program pemerintah demi menanggulangani pencemaran lingkungan khususnya tembaga," kataIrawati.

ProfIrawati yang sudah lebih dari 30 tahun lamanya tertarik dan meneliti bakteri yang resisten tembaga itu mengatakan, isu pencemaran lingkungan oleh tembaga makin hari kian meresahkan.

Kontaminasi logam berat merupakan salah satu permasalahan lingkungan serius di Indonesia yang dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam kesehatan manusia.

Tembaga yang memiliki kandungan toksin atau racun yang dapat menyebabkan kegagalan sistem saraf dan otak manusia, gagal jantung dan hati, gangguan reproduksi, tumor, kanker, dan penyakit Wilson.

"Semoga penelitian yang telah saya lakukan ini bisa bermanfaat bagi kelangsungan lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia," kata Prof Irawati yang pernah meraih penghargaan URGE, SEARCA, dan juga Habibie Foundationitu.

Ia menambahkan, tembaga merupakan salah satu pencemar yang paling banyak di Indonesia. Hasil laporan penelitian menunjukkan beberapa sungai di Indonesia sudah tercemar tembaga melebihi ambang batas.

"Kasus pencemaran yang paling parah terjadi pada tahun 1996, yaitu di Pantai Timur Surabaya yang diketahui hasil penelitian menunjukkan ikan dan kerang di sekitar pantai tersebut telah mengandung tembaga dengan kandungan 2-5 kali lipat dari ambang batas yang diperbolehkan oleh WHO," katanya.

Rektor UPH DrJonathan LParapak menyampaikan apresiasinya kepada ProfIrawati yang ditetapkan menjadi guru besar tetap bidang mikrobiologi atas penelitian yang dilakukannya, terutama terkait isu lingkungan yang sangat relevan saat ini.

"Kami juga memberikan penghargaan pada dedikasinya dalam mendukung visi dan misi UPH untuk melahirkan lebih dari 3.000 guru yang siap mengajar di seluruh Nusantara," katanya.

Oh Yen Nie, selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UPH menambahkan, ProfIrawati tidak hanya memiliki kecerdasan tetapi juga sikap dan karakter seorang Ilmuwan hebat.

"Selama 32 tahun, Prof Irawati telah mempelajari bakteri. Mendalami karakter bakteri selama itu membutuhkan kerendahan hati, ketekunan, ketelitian, dan kemampuan berpikir out of the box," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Nasional
Warga memanfaatkan air send...
Megapolitan
Hilang Kendali, Sebuah Taks...

Tradisi Sembahyang Rebutan di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Rona
Tradisi Sembahyang Rebutan ...

Inflasi bulan Agustus 2026

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Inflasi bulan Agustus 2026
Megapolitan
Pemkab Bogor Masih Diubek-u...
Advertisement
Minta Laporan Penanggulangan Karhutla, Presiden Prabowo Panggil Panglima-Kapolri

Minta Laporan Penanggulangan Karhutla, Presiden Prabowo Panggil Panglima-Kapolri

02 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.