Tanpa Kehilangan Identitas, Menag Minta Lulusan PTIQ Adaptif Zaman dan Kuasai Teknologi
📅 Rabu, 23 Sep 2026, 16:36 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA- Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an (PTIQ) Jakarta mewisuda 1005 lulusannya dari berbagai strata, mulai dari program sarjana, magister dan doktor di The Krakatau Grand Ballroom, Jalan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (23/9).
Rektor Universitas PTIQ Jakarta, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar dalam sambutannya menyampaikan selamat atas diwisudanya 1005 lulusan tersebut.
"Ini adalah hari bersejarah bagi saudara-saudara. Atas ketekunan belajar, doa orang tua, bimbingan para guru, dosen dan pertolongan Allah SWT. Angka 1005 bukan hanya persoalan statistik. Didalamnya ada 1005 kisah perjuangan 1005 harapan keluarga, 1005 amanah ilmu dan 1005 calon penerang bagi masyarakat," kata Prof Nasar
Menurut dia, setiap para wisudawan lulusan PTIQ ini memiliki sejarah pengorbanan dan perjuangan yang sangat luar biasa saat proses belajar. "Ada doa ibu yang tak pernah berhenti, ada kerja keras ayah yang tak kenal lelah dan tak selalu diceritakan, ada kesabaran keluarga dan keikhlasan para dosen dan pembimbing," ungkap dia.
Karena itu, setelah mendapatkan gelar akademik, Menteri Agama RI ini berpesan agar para wisudawan harus bisa bermanfaat untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara.
"Kita tidak ingin melahirkan lulusan yang hanya tajam akalnya, tapi kering hatinya. Kita tidak ingin menghasilkan sarjana yang tinggi ilmunya tetapi jauh dari masyarakat," ujar dia.
"Jadikan ilmu dan gelar saudara sebagai jembatan pengabdian untuk masyarakat. Jangan sampai ilmu dan gelar saudara dijadikan sebagai tembok memisahkan saudara di masyarakat," lanjut dia.
Selain itu, lanjut Prof Nasar, para wisudawan juga harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, mampu memanfaatkan teknologi, bergaul dan membangun jaringan internasional tanpa kehilangan identitas Al-Qur'an dan keindonesiaannya. "Bawalah nama baik PTIQ dimanapun anda berada," ucap dia.
Prof Nasar menambahkan, selama ini, para alumni-alumni telah menyebar dan berperan dan mengabdi di masyarakat, hingga mereka ikut mengukir nama baik PTIQ di kancah nasional dan internasional. Karena itu, usaha-usaha baik yang telah dibangun para pendahulu tersebut, bisa terus dilestarikan.
Prof Nasar mengungkapkan, saat ini masyarakat telah menanti kedatangan alumni-alumni PTIQ untuk berperan menjadi penerangan di kehidupan masyarakat, seperti menjadi imam masjid, mushola, muadzin dan sebagainya.
"Ada 800 ribu masjid di indonesia yang membutuhkan imam -imam terbaik. Dan sekolah imam yang terbaik saat ini belum ada yang bisa dikalahkan oleh PTIQ. Fakta membuktikan, seleksi imam saat ini masih didominasi alumni PTIQ. Lihatlah di masjid-masjid besar di perkotaan, khususnya jakarta," sambung dia.
Tak hanya dibutuhkan oleh masyarakat dari dalam negeri saja, lulusan PTIQ juga sangat dinantikan di berbagai negara.
"Orang arab juga minta (alumni PTIQ) 120 orang, Qatar 60, Jepang, korea selatan hingga Amerika Serikat juga minta. Bahkan, ada mahasiswa yang ada di Amerika. Kita ada kuota 500 orang pertahun. Itu diberi beasiswa oleh LPDP untuk melanjutkan studi di Harvard University, Connecticut University, juga Riverside university of California di L.A dan Al azhar. Ketika mahasiswa kita sedang studi disana dan bertepatan bulan suci, mereka ikut laris manis diminta sebagai penceramah," kata dia.
Dalam kesempatan ini, Rektor terlama di Indonesia itu juga meminta doa agar PTIQ diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menorehkan langkah besar dengan membuka prodi baru.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!