Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Repatriasi Prasasti Sangguran dan Pucangan Penting Bantu Indonesia Hadapi Krisis Iklim, Mengapa?

📅 Jumat, 26 Jan 2024, 11:57 WIB | Oleh: Tim Penulis

Ketika para ilmuwan barat di awal abad ke-20 melakukan eksperimen, mereka mengambil data di situs-situs gunung berapi dan menemukan sesajen.

Georges Kemmerling, ilmuwan dari Belanda, mencatat bahwa dalam melakukan kegiatan ilmiahnya di sekitar gunung Merapi di Jawa dan gunung Agung di Bali, dia mengikuti rute ritual menuju situs-situs sakral.

Dalam rute-rute itulah, ilmuwan kolonial pada tahun 1920-1930 pertama kali mempelajari gunung-gunung berapi di Jawa.

Apa yang hari ini dianggap sebagai mitos atau local wisdom sejatinya adalah fondasi dari berbagai cabang ilmu bumi modern. Konsep Antroposen yang dipahami oleh masyarakat Jawa memberi pengertian baru di bidang Kronostratigrafi (cabang ilmu yang mempelajari umur strata batuan dalam hubungannya dengan waktu) dan peran manusia dalam perubahan iklim.

Itulah sebabnya, prasasti seperti Sangguran, dan Pucangan penting untuk memberikan pengertian mendalam terkait hal ini.

Apa yang sudah dilakukan?

Untuk lebih memahami sejarah Indonesia pada abad ke-10, penulis dan Adam Bobbette, peneliti dan dosen di Universitas Glasgow, Skotlandia, mengumpulkan peneliti-peneliti dari Indonesia, Amerika, Inggris dan Australia untuk menggali konsep kerajaan-kerajaan kuno nusantara dan bagaimana batas-batasnya berevolusi dari masa ke masa dalam sebuah forum bertajuk Inscriptions on the Move, September 2023 lalu.

Saat ini status kepemilikan prasasti Sangguran masih dipegang oleh keluarga Minto, bukan oleh pemerintah Skotlandia.

Kolaborasi keilmuan yang dimotori oleh diaspora akademik Indonesia ini adalah cerminan diplomasi sains akar rumput untuk meningkatkan kesadaran publik tentang keberadaan prasasti Sangguran di Skotlandia, lewat diskursus ilmiah.

Ini sekaligus mengajak pemangku kebijakan Skotlandia untuk memfasilitasi upaya repatriasi yang sampai saat ini masih gagal terlaksana setelah Kedutaan Besar Republik Indonesia di London, Inggris menghentikan negosiasi pada 2006.

Dalam acara di atas, penulis bersama penyelenggara juga mengikutsertakan Bupati kota Batu, Jawa Timur, Aries Agung Paewai, serta Wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Lestari Moerdijat untuk menyuarakan pentingnya pengembalian prasasti Sangguran lewat media lokal.

Prasasti Pucangan dan Sangguran bukan hanya penting sebagai peninggalan budaya untuk dipamerkan di museum, melainkan untuk dipahami dan diteliti secara keilmuan oleh etnografer, ahli geologi, maupun ahli sejarah. Harapannya, kita bisa menggunakan hasil analisisnya untuk mempelajari bagaimana Jawa di permulaan abad modern menyikapi bencana alam dan lingkungan.The Conversation

Bagus Putra Muljadi, Assistant Professor of Chemical and Environmental Engineering, University of Nottingham

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

30 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.