Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Repatriasi Prasasti Sangguran dan Pucangan Penting Bantu Indonesia Hadapi Krisis Iklim, Mengapa?

📅 Jumat, 26 Jan 2024, 11:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Repatriasi Prasasti Sangguran dan Pucangan Penting Bantu Indonesia Hadapi Krisis Iklim, Mengapa? Doc: The Conversation/Inscriptions on the Move
Ket. Prasasti Sangguran yang masih menyimpan banyak misteri karena belum semua inskripsinya dipahami.

Bagus Putra Muljadi, University of Nottingham

Ilmuwan diaspora Indonesia sedang mendorong upaya pengembalian prasasti Pucangan dan Sangguran ke Indonesia (repatriasi) yang sudah dilakukan sejak tahun 2004 tapi belum berhasil.

Kedua prasasti besar abad ke-10 dan ke-11 yang memuat tulisan Jawa kuno ini saat ini berada di Kalkuta, India dan Skotlandia. Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris Raya yang berkuasa di Jawa tahun 1811-1816, memberikan kedua prasasti ini sebagai cinderamata untuk Lord Minto of Roxburghshire. Namun, belum ada informasi pasti mengapa prasasti Pucangan ditinggal di India dan tidak ikut dibawa ke Skotlandia.

Baik prasasti Pucangan maupun Sangguran bukan sekadar artefak budaya. Isi dari kedua prasasti tersebut adalah kunci untuk memahami arti hadirnya Indonesia di dalam era Antroposen (Anthropocene), era yang melihat adanya hubungan erat antara manusia dengan proses-proses geologis.

Kedua prasasti tersebut memuat tulisan Jawa kuno tentang peristiwa bencana pada sebuah periode kritis dalam sejarah Indonesia yang sampai saat ini belum sepenuhnya dimengerti karena teksnya tidak tersusun dengan baik. Sejauh ini, belum ada edisi atau terjemahan yang diterbitkan berdasarkan pemeriksaan langsung terhadap prasasti tersebut. Tanpa akses ke prasasti dan reproduksi yang dapat diandalkan, studi tentang isinya tidak dapat berkembang.

Padahal, bencana iklim dan Antroposen mendesak kita semua untuk memikirkan tentang dunia yang rapuh dan hubungan antara alam dengan masyarakat. Ilmuwan dunia percaya, mengunjungi kembali dua prasasti ini penting untuk memahami hubungan erat antara manusia dengan proses-proses geologis di masa lalu dan membantu masyarakat menghadapi ancaman iklim di masa kini dan masa depan.

Hubungan manusia dengan alam

Masyarakat lokal menilai Batu "Minto" atau Prasasti Sangguran dengan berat hampir 3 ton sebagai sebuah peninggalan sejarah berharga; sampai-sampai replika dari prasasti tersebut kini berdiri dan disembah di Jawa Timur, tempat asalnya.

Memang, prasasti Pucangan dan Sangguran adalah salah satu kunci untuk memahami hubungan sakral antarkehidupan sosial, struktur kepemerintahan dan manifestasi geologis di tanah Jawa. Sebagai contoh, ahli sejarah masih berdebat tentang hubungan antara pralaya (kehancuran besar) yang tertuang dalam prasasti Pucangan dan letusan gunung Merapi sekitar tahun 1006 yang kemudian mengakibatkan perpindahan kekuasaan kerajaan Mataram ke Jawa Timur.

Setidaknya sejak awal abad ke-20, masyarakat Jawa sudah terlebih dahulu mencatat bukti adanya hubungan yang erat antara proses geologis dengan struktur kepemerintahan masa itu.

Bagi Keraton Yogyakarta, contohnya, kekuasaan sultan adalah pemberian dari penguasa Gunung Merapi dan Laut Kidul.

Masyarakat lokal meyakini bahwa merekalah yang memberikan dan mempercayakan kekuasaan administratif kepada Sultan. Sedangkan Gempa bumi, letusan gunung berapi, hujan, dan tsunami adalah pengejawantahan dari suara, dan nafas-para penunggu tersebut. Kepercayaan tersebut yang mendorong para abdi yang bekerja untuk sultan mempersiapkan sesaji bagi arwah nenek moyang, penunggu gunung berapi, sungai, hutan, dan laut.

Ahli ilmu bumi Belanda, Pieter Veth, dalam catatannya di tahun 1882 yang bertajuk "Java: Geography, Ethnology, History" mengakui signifikansi Nyai Ratu Kidul, dan Samudera Hindia sebagai teritorinya.

Masyarakat Jawa sudah memahami bahwa segala aspek sosial, politik, dan proses geologis tidak dapat dipisahkan; dan mereka sudah bergumul dengan konsep Antroposen setidaknya sejak abad ke-18.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.