“Pax Mongolika', Masa Damai yang Melahirkan Kemajuan
📅 Jumat, 19 Jan 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoPerdamaian Internal
Para khan Mongol akan bekerja keras menjaga perdamaian internal dan pendekatan ramah bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan. Pax Mongolica, demikian sebutannya, akan mempunyai implikasi yang luas, khususnya bagi Eropa.
Bangsa Mongol menerapkan tarif perdagangan standar dan sistem perpajakan, yang dianggap progresif dan seragam di seluruh kekaisaran. Mereka mendorong perdagangan antarkota dan secara aktif berinvestasi dalam pengembangan pusat kota.
Pengrajin dan pengrajin terampil dihargai. Bangsa Mongol melakukan pemukiman kembali para pekerja terampil, seringkali dengan kekerasan dan penculikan. Marco Polo, dalam perjalanannya menuturkan bahwa ia bertemu dengan koloni penenun dari Timur Tengah yang telah dipindahkan ke sebagian Mongolia dan Tiongkok utara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Willem dari Rubreck, seorang biarawan Fransiskan yang melakukan perjalanan pada pertengahan abad ke-13, mencatat bagaimana ia bertemu dengan seorang tukang emas Paris dan istrinya yang berasal dari Hongaria. Keduanya telah diculik dari Beograd di Balkan dan dibawa ke Karakorum, yang saat itu merupakan ibu kota kerajaan Mongol.
Kerajaan Mongol menguasai wilayah yang membentang dari Pasifik hingga Balkan. Di wilayah yang luas ini, di bawah kekuasaan pusat para khan Mongol, perjalanan menjadi lebih mudah diakses dan aman. Hal ini sebagian disebabkan oleh jaminan perjalanan yang aman di dalam batas-batas kekaisaran.
Komunikasi sangat penting baik dalam bisnis maupun dalam mempertahankan kendali militer. Untuk mencapai tujuan ini, bangsa Mongol menerapkan sistem pos yang efisien, tidak seperti Pony Express pada era western di Amerika Serikat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dibesarkan di padang rumput terbuka, bangsa Mongol terkenal karena kemampuan menunggang kuda. Mereka menggunakan keterampilan ini tidak hanya di medan perang tetapi juga dalam penyampaian pesan melintasi jarak yang sangat jauh di kekaisaran.
Sistem ini terdiri dari jaringan stasiun jalan yang terletak pada jarak 20-40 mil, dilengkapi dengan kuda-kuda baru dan tempat menampung utusan. Para utusan berkuda secepat yang mereka bisa ke stasiun berikutnya, di mana mereka bisa mendapatkan tunggangan baru.
Banyak pedagang dan pelancong seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah memanfaatkan keamanan baru yang ditawarkan oleh bangsa Mongol. Sejumlah besar barang diperdagangkan dan dijual sepanjang abad ke-13 hingga abad ke-14.
Rempah-rempah, sutra, logam mulia, bahan mentah dipertukarkan melalui jaringan perdagangan. Populasi kota berkembang, dan kota-kota tersebut menjadi pusat seni dan budaya perkotaan. Sebagian besar bangsa Mongol menerapkan toleransi beragama, sehingga kota-kota tersebut menjadi tempat meleburnya kepercayaan.
Tempat-tempat seperti Samarkand (Uzbekistan modern) adalah pusat pembelajaran dan gudang pengetahuan. Kota tidak hanya merupakan pasar barang tetapi juga tempat pertukaran ide dan inovasi. Uang kertas, percetakan, tagihan kredit, bubuk mesiu, kompas, dan teknologi lainnya menyebar dari Timur ke Barat.
Sementara perdagangan yang berkembang mendorong munculnya institusi-institusi baru seperti perbankan dan asuransi. Pada akhir abad ke-13, bangsa Mongol telah membuat perjanjian dengan Republik Genoa. Orang Genoa pun mendirikan Kaffa, sebuah kota pelabuhan di Kota Hitam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!