Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai Defisit Beras pada Februari

📅 Kamis, 18 Jan 2024, 07:58 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Defisit Beras pada Februari Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas/ NFA) memperingatkan potensi defisit beras pada Februari mendatang sebagai dampak dari El Nino pada 2023. Efek El Nino baru dirasakan dua hingga tiga bulan setelahnya sehingga berisiko memicu defisit bulanan neraca beras pada Januari dan Februari pada 2024.

Menurut kalkulasi Badan Pusat Statistik (BPS), defisit pada pada Januari 2024 diperkirakan sebesar 1,61 juta ton dan pada Februari 2024 sebesar 1,22 juta ton.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan eskalasi harga beras, sehingga perlu ada antisipasi. "Sampai sekarang harga di petani selalu kita jaga, agar tidak jatuh terlalu dalam. Kami di Badan Pangan Nasional selalu berupaya menjaga keseimbangan harga mulai dari produsen sampai konsumen. Importasi beras tidak banyak mempengaruhi harga di tingkat petani. Jika nanti Kementan (Kementerian Pertanian) telah berhasil wujudkan produksi beras lebih dari 2,5 juta ton dalam sebulan, kita harapkan harga beras mulai turun," ungkap Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi di Jakarta, Rabu (27/1).

Sepanjang 2023, stok cadangan beras pemerintah (CBP) berhasil terjaga selalu di atas 1 juta ton. Dengan kondisi stok yang mumpuni tersebut, CBP digelontorkan ke masyarakat melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam bentuk operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM), serta penyaluran bantuan pangan beras kepada lebih dari 21,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

"Pada 2024, Badan Pangan Nasional bersama Bulog senantiasa berkomitmen untuk memprioritaskan menyerap produksi dalam negeri. Karena itu, momentum panen raya mendatang harus betul-betul dioptimalkan," ujarnya.

Adapun Bapanas mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian (Kementan) mengebut percepatan tanam di beberapa daerah yang sudah memiliki air mulai dari Oktober tahun lalu. Ini penting karena guna memenuhi kebutuhan konsumsi beras nasional sebanyak 2,5 juta ton per bulan, setidaknya total luas tanam kita harus ada 1 juta hektar.

Untuk itu, pemerintah pusat perlu berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pemerintah daerah agar dapat tanam minimal 1 juta hektar. Adapun Mentan menyatakan penanaman melebihi 1 juta hektar dan harapannya mulai April 2024 sudah mulai dapat menyerap beras dari sedulur petani.

Tata Niaga

Dihubungi terpisah, Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa mendorong pemerintah menjaga inflasi agar tetap terkendali. Dia mencontohkan kasus inflasi di Argentina yang meroket hingga di atas 200 persen sehingga bisa mengganggu stabilitas politik dan ekonomi.

Dia juga mendorong untuk mengurangi impor pangan. "Tingkatkan produktivitas dan perbaiki tata niaga dan rantai distribusi supaya lebih demokratis dan terkendali. Negara harus hadir optimal, termasuk melalui revitalisasi Bulog," pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.