Kisah Orang Tugutil di Pedalaman Halmahera yang Terimpit Raksasa Tambang dan Kayu
📅 Senin, 01 Jan 2024, 11:46 WIB | Oleh: Tim PenulisKondisi senada juga terjadi bagi Orang Togutil di sekitar Dusun Afu dan Tebin-tebin. Menurut penuturan Kepala Desa Lili, hampir setiap hari penduduk dari sana turun ke desa, karena banyak saudara yang sudah keluar hutan. Mereka sudah jamak dengan beras, minyak, dam mie instan.
Sementara, Orang Togutil di Desa Makahar berinteraksi lebih terbatas dengan dunia luar. Berdasarkan keterangan dari staf Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Kepala Desa Lili, sebulan sekali mereka turun ke SP 6 (wilayah transmigrasi) untuk berbelanja beberapa barang terutama garam.
Orang Tugutil keluar hutan sebagian besar mengikuti program permukiman Komunitas Adat Terpencil (KAT) dari Pemerintah. Mereka mendapatkan rumah dan pendampingan untuk bisa berasimilasi dengan lingkungan baru.
Namun, permasalahan baru muncul. Tidak semua dari mereka mampu beradaptasi dan berasimilasi. Meskipun tinggal di perkampungan warga, mereka masih tetap berkebun di dalam hutan. Terkadang mereka berhari-hari tidak pulang untuk tinggal di hutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada beberapa Orang Tugutil yang sudah keluar hutan, tapi belum memiliki kecakapan untuk mendapatkan uang. Sementara, mereka sulit pergi ke hutan karena semakin jauh. Mereka akhirnya membuat gubuk di pinggir jalan untuk meminta uang dan makanan bagi yang melintas.
Gubuk seperti ini banyak kami temui di pinggir jalan utama di Desa Dodaga. Mereka turun di pagi hari dan kembali lagi ke huniannya di sore hari. Seringkali anak-anak balita ikut menunggu uluran tangan di gubuk.
Tidak semua proses asimilasi gagal. Ada cerita sukses dari perempuan Tugutil bernama Loriana Tiak yang keluar dari hutan untuk menempuh pendidikan tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Loriana ini dipilih oleh Orang Tugutil dan bermukim di Desa Lili, Halmahera Timur. Keluarganya bekerja sama untuk membiayai kerabat Loriana hingga meraih gelar sarjana Pendidikan Kimia dari Universitas Manado. Seusai lulus, Loriana yang menjadi sarjana pertama dari Desa Lili memilih kembali ke kampung halaman.
Saat kami temui, Loriana menyatakan cita-citanya membangun desa dengan menjadi Sekretaris Desa perempuan pertama di sana. Di sela-sela pekerjaannya, Loriana juga menyediakan waktu untuk mengajar anak-anak di desa serta aktif memberikan pelayanan kepada warga desa maupun Orang Tugutil di hutan. Ada juga Orang Tugutil di Desa Dodaga yang berkuliah jurusan sastra Inggris, kembali ke desa untuk menjadi guru.
Pentingnya memangkas stigma
Orang Tugutil di Halmahera Timur memainkan peran penting sebagai penjaga terakhir hutan tropis di Indonesia, terletak pada rentang garis Wallacea. Sayangnya, dalam menghadapi tekanan perubahan gaya hidup dan ekstraksi sumber daya, Orang Tugutil menghadapi stigma. Masyarakat acap memposisikan mereka sebagai "liyan," entitas yang di luar pemahaman umum masa kini.
Situasi ini menyulitkan bagi Orang Tugutil untuk diterima dan dipahami oleh masyarakat luas. Meskipun mereka berjuang untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan tradisi, pandangan negatif terus menghambat usaha mereka.
Penting bagi kita untuk melibatkan diri secara lebih mendalam, mendengarkan cerita mereka, dan memahami nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Hanya dengan pemahaman yang lebih baik dan kolaborasi yang kuat, kita dapat bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati dan warisan budaya Orang Tugutil.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!