Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ekonomi Indonesia Berpotensi Stagnasi

📅 Jumat, 29 Des 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekonomi Indonesia Berpotensi Stagnasi Doc: ISTIMEWA
Ket. TAUHID AHMAD Direktur Eksekutif Indef - Walaupun Pemerintah menyiapkan bantuan sosial untuk masyarakat untuk menjaga daya beli, tetapi nilai bansos yang diberikan kepada masyarakat itu tidak cukup untuk meningkatkan daya beli.

» Negara akan sulit keluar dari middle-income trap jika terus mengandalkan konsumsi sebagai penopang pertumbuhan.

» Daya saing yang kuat diperlukan agar ekonomi dapat berkembang secara berkelanjutan.

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 mendatang berpotensi mengalami stagnasi, bahkan sedikit melambat walaupun tidak besar. Potensi stagnasi itu disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengatakan faktor utama dari eksternal yang menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah perlambatan ekonomi global. Hal tersebut terlihat dari melemahnya permintaan ekspor Indonesia, terutama dari Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Korea Selatan.

"Kita masih punya masalah dari sisi penurunan ekspor-impor sampai tahun depan, harga komoditas masih belum bergejolak baik akibat pelemahan ekonomi dunia, sehingga itu yang membuat ekonomi kita tidak bertumbuh tinggi," kata Tauhid kepada Antara.

Selain itu, dari domestik adalah pengaruh daya beli masyarakat Indonesia yang melemah.

"Walaupun pemerintah menyiapkan bantuan sosial untuk masyarakat untuk menjaga daya beli, tetapi nilai bansos yang diberikan kepada masyarakat itu tidak cukup untuk meningkatkan daya beli. Jadi, rata-rata hanya untuk mempertahankan dari kenaikan harga yang bersifat volatile food," jelas Tauhid.

Dia pun merekomendasikan beberapa kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5 persen pada tahun depan. Pertama, pemerintah perlu memperkuat ekonomi domestik dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor ke negara-negara yang pertumbuhan ekonominya masih bagus.

Kedua, pemerintah perlu meningkatkan daya beli masyarakat melalui efektivitas bantuan sosial, penciptaan lapangan kerja, dan penyediaan fasilitas pendukung. Dia juga menyarankan agar pemerintah meningkatkan jumlah kelompok masyarakat kelas menengah melalui program-program yang tepat sasaran.

"Kita harus meningkatkan kelas menengah kita yang tidak tersentuh bantuan, tidak tersentuh program dari pemerintah, tapi mereka jumlahnya banyak. Nah, ini perlu pemerintah membuat program karena mereka juga merupakan penggerak penting perekonomian," kata Tauhid.

Dengan momentum tahun politik pada 2024, dia berharap pemerintah bisa memanfaatkan itu guna untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. "Momentum ini harus dikawal agar nantinya terjadi perbaikan di perekonomian kita agar lebih baik lagi," kata Tauhid.

Bonus Demografi

Diminta terpisah, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan optimisme akan pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh masih kuatnya konsumsi masyarakat menyiratkan akan adanya risiko.

Bagi negara sebesar Indonesia yang terlalu mengandalkan konsumsi sebagai penopang pertumbuhan justru membuat negara akan sulit keluar dari middle-income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

26 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Megapolitan
Puncak HUT Jakarta Dipusatk...
Nasional
Stimulus Harus Diikuti Refo...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.