Guru Penggerak Atasi Masalah Kekurangan Murid di SD Negeri
📅 Jumat, 08 Des 2023, 01:51 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: koran jakarta/Muhamad Ma’rup
MATARAM - Kementerian, Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menghadirkan program Guru Penggerak untuk melahirkan para guru yang mampu memimpin transformasi pembelajaran, salah satunya dengan menjadi kepala sekolah. Saat ini, lulusan progran Guru Penggerak sudah ada yang menjabat kepala sekolah di sekolah-sekolah yang memiliki keunikan seperti kekurangan murid.
Hal tersebut dirasakan Kepala SDN 26 Mataram, Gellis Deka Salaqi. Lulusan Guru Penggerak angkatan ke-3 ini mengatakan ketika dia menjadi Kepala SDN 26 Mataram pada semester genap tahun ajaran 2022/2023, jumlah muridnya sedikit dan berkurang ketika tahun ajaran baru 2023/2024.
"Tahun ajaran sebelumnya ada 99 orang. Kini berkurang menjadi 81 orang," ujar Gellis, kepada Koran Jakarta, dalam rangkaian Press Tour Kemendikbudristek, di Mataram, Kamis (7/12).
Gellis mengatakan, tren siswa yang mendaftar di SDN 26 Mataram terus mengalami penurunan tiap tahunnya. Hal tersebut disebabkan beberapa hal, seperti program sekolah yang monoton, kebersihan, dan lokasi sekolah yang berdekatan dengan sekolah lain.
Dia menambahkan, kekurangan murid juga terjadi di beberapa sekolah negeri lain di Mataram. Menurutnya, ada kecenderungan orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke madrasah.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Di Mataram ini kebanyakan orang tua menyekolahkan anaknya di madrasah. Sehingga di sekolah negeri hampir semua kekurangan murid," jelasnya.
Pola Madrasah
Gellis mengungkapkan, untuk mengatasi masalah tersebut, dia menginisiasi agar SDN 26 Mataram menerapkan konsep Sekolah Negeri Berpola Madrasah. Konsep tersebut diambil setelah melalui observasi serta diskusi dengan para guru di SDN 26 Mataram serta koordinasi Dinas Pendidikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita mengambil pola sekolah negeri berpola madrasah. Alasannya membangkitkan minat orang tua agar mau menyekolahkan anaknya di sekolah kami," katanya.
Dia memastikan, konsep ini tidak masuk dalam kurikulum, tapi lebih pada program pendukung pembelajaran. Beberapa program di antaranya Salat Duha Bersama, Salat Zuhur Bersama, Literasi Alquran, dan menghapal 30 juz.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!