Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bunga Kredit Tinggi, Bukti Bank Belum Efisien

📅 Jumat, 01 Des 2023, 05:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bunga Kredit Tinggi, Bukti Bank Belum Efisien Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Untuk mendorong inklusi keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator diminta memperbaiki sistem keuangan agar lebih efisien, sehingga menarik masyarakat untuk memanfaatkan.

Pengamat ekonomi, Piter Abdullah, di Jakarta, Kamis (30/11), mengatakan komponen-komponen dalam sistem keuangan meliputi institusi keuangan, baik perbankan maupun nonbank, pasar keuangan, korporasi, dan infrastruktur keuangan.

Saat ini, kata Piter, ada banyak faktor yang menghambat masyarakat untuk terhubung ke sektor keuangan utamanya bank, salah satunya adalah suku bunga kredit bank yang sangat tinggi.

Selama bunga kredit bank masih begitu tinggi, banyak yang tidak mampu membayar beban bunga, sehingga mereka akan menghindari lembaga keuangan dan bank.

"Inefisiensi yang tecermin dalam bentuk suku bunga tinggi ini selama ini tidak pernah diakui sebagai faktor penghambat inklusi keuangan," jelas Piter seperti diberitakan Antara.

Sementara suku bunga tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat untuk menggunakan jasa industri keuangan. Selain mendorong bank agar lebih efisien, peningkatan inklusi juga perlu didukung dengan program-program bantuan untuk menjadikan masyarakat eligible dan bankable (layak). Sementara itu, literasi harus dilakukan secara konsisten melalui berbagai bentuk program edukasi kepada masyarakat.

Dalam waktu yang berbeda, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, sepakat dengan tingginya tingkat bunga kredit bank menjadi salah satu faktor penghambat masyarakat mengakses kredit.

Selain tingkat bunga kredit, literasi keuangan masyarakat yang rendah serta sebagian besar (hampir 80 persen) masyarakat terbiasa mendapat modal bukan dari kredit bank karena memang mereka belum bankable. Manajemen laporan keuangan mereka tidak rapi, tidak punya kolateral/ agunan, sehingga mereka lebih mengandalkan dari pinjaman keluarga, modal sendiri, dan dari lembaga keuangan bukan bank yang informal.

"Yang bisa dilakukan pemerintah jika ingin mendorong kredit maka harus diberikan kemudahan tanpa mengabaikan profil debitur agar tidak menyebabkan lonjakan kredit macet," kata Esther.

Teknologi Digital

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengatakan kondisi keuangan pada tahun ini juga dibayangi oleh tingginya suku bunga, ketersediaan modal yang ketat, hingga likuiditas yang cukup sulit. Berbeda dengan tahun lalu dengan likuiditas berlimpah dan tingkat suku bunga dalam kondisi rendah sehingga memberikan dampak positif pada industri.

Dia juga mengingatkan para pelaku industri jasa keuangan untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul dari penggunaan teknologi digital.

"Semakin banyak aspek teknologi digital di dalam sektor industri maka risiko semakin banyak dan pada gilirannya membutuhkan aspek pemahaman yang jelas tentang tata kelola agar bisa sustainable," kata Mahendra dalam Risk & Governance Summit 2023, di Jakarta, Kamis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

28 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

47 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.