Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Realistis Pertumbuhan Ekonomi 2024

📅 Sabtu, 25 Nov 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Realistis Pertumbuhan Ekonomi 2024 Doc: ISTIMEWA
Ket. SRI MULYANI INDRAWATI Menteri Keuangan - Risiko penurunan pertumbuhan ekonomi berasal dari berbagai faktor, yakni inflasi yang bertahan tinggi, pelemahan ekonomi Tiongkok, volatilitas harga komoditas, serta eskalasi geopolitik global seperti konflik Hamas-Israel di Gaza, Timur Tengah.

JAKARTA - Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang angka pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2023 sebesar 4,94 persen secara tahunan atau year on year (yoy) atau melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 5,17 persen, membuat pemerintah lebih realistis mengenai proyeksi ekonomi pada tahun ini.

Dalam beberapa kesempatan, pejabat pemerintah mengakui kalau beberapa faktor ketidakpastian dari eksternal perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan pelambatan ekonomi.

Terakhir, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengingatkan meskipun proyeksi ekonomi Indonesia oleh berbagai lembaga internasional masih di kisaran 5 persen, namun masih terdapat risiko penurunan yang berasal dari berbagai faktor, yakni inflasi yang bertahan tinggi, pelemahan ekonomi Tiongkok, volatilitas harga komoditas, serta eskalasi geopolitik global seperti konflik Hamas-Israel di Gaza, Timur Tengah.

Risiko lainnya seperti fragmentasi geoekonomi, kejutan akibat perubahan iklim, terbatasnya ruang kebijakan global, hingga peningkatan risiko kesulitan utang.

"Inflasi global meskipun sudah mulai menurun, masih relatif tinggi dibandingkan level histori dalam satu dekade terakhir," jelas Menkeu.

Salah satu pertimbangan sehingga prospek ekonomi Indonesia masih baik hingga saat ini karena masih ekspansifnya aktivitas sektor manufaktur, dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur sebesar 51,5 pada Oktober 2023.

Dengan demikian, Indonesia masuk dalam 30,4 persen negara G20 dan Asean-6 yang mencatat PMI Manufaktur ekspansif, selain Filipina, Singapura, India, Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Russia.

Sementara sebesar 69,6 persen negara mencatatkan PMI Manufaktur yang kontraksi, yakni negara-negara Eropa, seperti, Jerman, Perancis, Inggris, Italia. Begitu pula Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Vietnam, Kanada, Brasil, Afrika Selatan, Turki, dan Australia.

"Ini artinya sektor riil terutama manufaktur masih mengalami tekanan yang terus berlanjut dari mulai pandemi hingga berakhirnya pandemi sekarang ini," katanya.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, yang diminta pendapatnya mengatakan ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5 persen tahun 2024 mendatang karena masih besarnya porsi konsumsi domestik.

"Tahun depan, ekspor dan investasi agak sulit diandalkan karena berbagai tantangan di level global," kata Bhima.

Pemilu AS pada November 2024 juga akan memberikan efek geopolitik yang signifikan dan memicu pengalihan aset ke dollar AS. Oleh sebab itu, pemerintah harus all out menjaga konsumsi domestik terutama dari inflasi pangan dan volatilitas harga energi.

"Untuk menopang konsumsi mau tidak mau pendapatan masyarakat harus lebih tinggi lagi agar berada di atas angka inflasi sehingga memberikan ruang daya beli yang lebih besar," kata alumni UGM tersebut.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan ekonomi Indonesia pada 2024 tidak akan lebih baik dari 2023.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.