Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenaskan, Nepotisme Naik Kelas

📅 Senin, 20 Nov 2023, 19:05 WIB | Oleh:
Mengenaskan, Nepotisme Naik Kelas Doc: istimewa
Ket. Diskusi akhir pekan titik temu dengan tema Bahaya Nepotisme Jokowi, di Jakarta.

JAKARTA - Mengenaskan, praktik korupsi cenderung terjadi atau merajalela dalam nepotisme kekuasaan. Hal itu dapat dilihat dari 16 kepala daerah yang wilayahnya dikuasai dinasti politik, yaitu ditangkapnya mereka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Itu sebab tuntutan reformasi, ketika itu adalah menghapuskan korupsi, kolusi dan nepotisme atau KKN," kata aktivis Pro Demokrasi 98, Ray Rangkuti dalam pernyataan tertulis yang diterima Koran Jakarta, Senin (20/11).

Hal itu dikatakan Ray dalam diskusi akhir pekan titik temu dengan tema Bahaya Nepotisme Jokowi, di Jakarta. Diskusi yang dipandu Sebastian Salang ini juga menghadirkan aktivis pro demokrasi 98, Samuel Nitisaputra dan aktivis pro demokrasi 98 dari Surabaya, Jojo Rohi.

Menyinggung situasi politik yang terjadi saat ini di Pilpres 2024, Ray mengibaratkan tidak ubahnya nepotisme yang naik kelas. Karena Ray melihat, nepotisme telah terjadi di sejumlah daerah, sejak digelarnya Pilkada 2005.

Bahkan Ray mencatat, dinasti politik di daerah menjadi raja raja kecil, dan kekuasaan berputar di kalangan keluarga saja, sejak ada pilkada. Di tahun itu, Ray mencatat ada 60 daerah yang dikuasai oleh dinasti politik. Tahun 2020, meningkat menjadi 117 daerah, atau 21 persen. "Dikhawatirkan pada Pilkada 2024 nanti dinasti politik akan meningkat hingga 25 persen" ujar Ray.

Untuk mencegah dinasti politik berkembang biak, menurut Ray, sebenarnya telah dilakukan pembatasan dalam Undang Undang No 8 tahun 2015, tentang Pilkada. Pada Pasal 7 huruf f dalam UU ini disebutkan, Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota terkait syarat yang melarang bakal calon kepala daerah memiliki hubungan darah/perkawinan dengan petahana. Namun pasal ini dibatalkan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, karena dianggap bertentangan dengan Pasal 28i ayat 2 UUD 1945.

Tidak jauh beda dengan Ray, Aktivis Pro Demokrasi 98 dari Surabaya, Jojo Rohi melihat, situasi politik jelang Pilpres 2024 ini seperti Orde Baru 4.0. Politik dinasti yang dimainkan saat ini memberikan kesempatan kepada kalangan muda untuk maju, tanpa mengindahkan etika. Jojo menyayangkan, ada hal personal yang telah mempertaruhkan masa depan bangsa.

Kondisi politik saat ini, menurut Ray, membuat orang tidak lagi berharap bisa menjadi elit politik, bila bukan keturunan elit politik atau punya darah biru di dunia politik atau tidak memiliki modal untuk masuk ke sana. "Karena instrument demokrasi telah dipakai untuk membangun dinasti politik," kata Ray.

Ray menambahkan, nepotisme telah menyebabkan proses kaderisasi mandeg, karena aturan dibuat bukan untuk semua anak muda, tapi aturan dibuat hanya untuk anak si A atau anak di B saja.

Aktivis Pro Demokrasi 98 lainnya, Samuel Nitisaputra menyatakan, saat ini sebenarnya memar reformasi 98 masih sangat terasakan. Sehingga saat kasus nepotisme seperti sekarang ini terjad memunculkan traumatic bagi para aktivis pro demokrasi lainya.

Samuel menuturkan, secara ekonomi, nepotisme menyebabkan munculnya kolusi dan korupsi, seta membuat inefisiensi. Kondisi semacam itu akan mengarah pada memburuknya perekonomian nasional, akibat high cost economi. "Sebelum sampai seperti tahun 97 dan 98, kita ingatkan jangan lakukan lagi," ujar Samuel.

Namun permasalahan yang diakui sulit, menurut Ray, bagaimana menyadarkan masyarakat tentang bahayanya nepotisme, di tengah kepuasan pada kinerja Jokowi.

Ray khawatir, cara cara seperti yang dilakukan Presiden Jokowi akan digunakan oleh pemimpin pemimpin selanjutnya.

"Kiatnya, puaskan dulu masyarakat, hingga tingkat kepuasan mencapai 70 atau 80 persen, lalu minta apa pun akan dituruti oleh masyarakat. Hingga periode pemerintahan tak terbatas," kata Ray.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Puncak HUT Jakarta Dipusatk...
Nasional
Stimulus Harus Diikuti Refo...

Wabah Ebola Kongo Tembus 1.000 Kasus

21 menit yang lalu | Lukman

Luar Negeri
Wabah Ebola Kongo Tembus 1....
Luar Negeri
Yen Jepang Dekati Titik Ter...
Rona
Remake 'The Blair Witch Pro...
Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.