AS dan Tiongkok Membahas Pengendalian Senjata Nuklir
📅 Rabu, 08 Nov 2023, 00:53 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: istimewa
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok pada Senin (7/11), menggelar pembicaraan langka mengenai pengendalian senjata nuklir, sebuah langkah baru untuk mengurangi ketidakpercayaan menjelang pertemuan puncak presiden yang dijadwalkan minggu depan.
Dikutip dari The Straits Times, pembicaraan tersebut, yang merupakan pertemuan pertama khususnya mengenai senjata nuklir antara kedua negara sejak pemerintahan mantan presiden AS Barack Obama, terjadi ketika AS menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya persenjataan nuklir Tiongkok.
Diperkirakan tidak ada terobosan dalam perundingan satu hari di Washington, setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi.
"Kami terus-menerus meminta RRT untuk terlibat secara substansial dalam masalah pengendalian senjata dan mengurangi risiko strategis," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Vedant Patel, kepada wartawan, merujuk pada Republik Rakyat Tiongkok.
"Keterlibatan ini akan melanjutkan upaya untuk mengelola hubungan secara bertanggung jawab dan memastikan persaingan tidak berubah menjadi konflik," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden AS, Joe Biden, diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, minggu depan di sela-sela KTT Asia-Pasifik di San Francisco yang merupakan pertemuan pertama antara para pemimpin dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia dalam setahun.
Pengendalian Senjata
Pembicaraan Senin berlangsung antara asisten menteri luar negeri AS untuk pengendalian senjata, verifikasi dan kepatuhan, Mallory Stewart, dan Sun Xiaobo, direktur jenderal departemen pengendalian senjata di Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kedua pihak akan bertukar pandangan mengenai berbagai isu seperti penerapan perjanjian pengendalian senjata internasional dan non-proliferasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Weng Wenbin, dari Beijing.
Pentagon, dalam laporan yang diamanatkan kongres bulan lalu, mengatakan Tiongkok mengembangkan persenjataan nuklirnya lebih cepat daripada perkiraan AS sebelumnya.
"Tiongkok memiliki lebih dari 500 hulu ledak nuklir yang beroperasi pada Mei 2023 dan kemungkinan akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030," katanya.
Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, yang menghitung 410 hulu ledak milik Tiongkok, AS saat ini memiliki sekitar 3.700 hulu ledak nuklir, tertinggal dari Russia yang memiliki sekitar 4.500 hulu ledak.
Pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, yang prihatin dengan bertambahnya persenjataan Tiongkok, bersikeras untuk memasukkan Beijing dalam penerus perjanjian The New Strategic Arms Reduction Treaty (The New START) mengenai senjata nuklir antara Russia dan Amerika Serikat.
Presiden Biden, saat menjabat, setuju untuk memperpanjang New START hingga Februari 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!