Teknologi Satelit Optik Tangani Pencemaran Laut dari Angkasa
📅 Senin, 06 Nov 2023, 13:48 WIB | Oleh: Tim PenulisSensor pada satelit optik mampu mendeteksi perubahan warna, suhu, dan tekstur di permukaan laut. Saat terjadi tumpahan minyak, minyak akan membentuk lapisan tipis di atas air yang mengubah sifat permukaan laut tersebut. Satelit dapat "melihat" perubahan ini dan memberi tahu kita di mana tumpahan minyak terjadi.
2. Sampah laut
Sampah yang dibuang ke laut akan pergi kemana pun mengikuti arus sehingga sulit untuk mendeteksi keberadaannya atau memprediksi pergerakannya. Padahal, sampah laut, khususnya plastik, dapat menambah pelepasan karbon dari laut ke atmosfer sehingga memperparah perubahan iklim.
Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa satelit memiliki potensi yang besar untuk membantu melihat sampah laut dari angkasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain mendeteksi sampah yang mengapung dan terdampar di pantai, perkembangan teknologi telah memungkinkan satelit untuk membantu memprediksi pergerakan sampah. Lauren Biermann, peneliti dari Plymouth Marine Laboratory, Inggris, pada 2020, menggunakan satelit Sentinel-2 dan metode Floating Debris Index (FDI) untuk mendeteksi jejak sampah plastik di beberapa daerah. Sentinel-2 merupakan satelit beresolusi 10 meter yang dioperatori oleh European Space Agency (ESA), badan antar pemerintah yang dikhususkan untuk eksplorasi ruang angkasa dan berkantor pusat di Paris, Prancis.
Dengan menggunakan satelit optik, luasan sampah yang sangat melimpah mudah untuk dideteksi, apalagi jika luasannya melebihi resolusi Sentinel-2. Data satelit akan menunjukkan jejak sampah plastik ini sebagai warna yang berbeda dengan permukaan air. Seperti pada penelitian tahun 2022 yang mendeteksi sampah laut di North Adriatic, Eropa pada musim panas 2020.
Tentunya, kemampuan satelit untuk memprediksi pergerakan sampah laut akan lebih maksimal jika dipadukan dengan informasi lain seperti arah arus, kecepatan arus, dan sifat oseanografi lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
3. Algal bloom
Algal bloom atau fenomena mekarnya alga terjadi ketika populasi alga di perairan meningkat dengan cepat dan mengubah warna air menjadi hijau, merah, atau coklat. Meskipun beberapa algal bloom bersifat alami dan tidak berbahaya, ada juga yang menghasilkan racun yang dapat membahayakan kehidupan laut dan manusia yang mengonsumsi makanan laut.
Sensor pada satelit pengindraan jauh mampu mendeteksi perubahan warna dan kualitas cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. Saat alga mekar, mereka menghasilkan pigmen klorofil yang mengubah warna air. Satelit dapat "melihat" perubahan warna ini dan mengidentifikasi area yang mengalami algal bloom.
Dengan mendeteksi algal bloom lebih awal, kita dapat memperingatkan masyarakat dan nelayan tentang potensi bahaya. Selain itu, data dari satelit juga dapat digunakan oleh para peneliti untuk memahami penyebab dan pola algal bloom, serta mengembangkan strategi pencegahan dan pengendalian.
4. Padatan tersuspensi
Satelit optik juga memiliki kemampuan untuk mendeteksi benda kecil, terutama padatan tersuspensi di perairan. Area yang memiliki konsentrasi padatan tersuspensi tinggi, akan memiliki penampakan yang keruh. Semakin keruh kondisi perairan, semakin miskin klorofilnya, sehingga dapat menyebabkan terputusnya rantai makanan untuk biota laut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!