Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hasil Studi Terbaru: Bunga Rafflesia Terancam Punah

📅 Jumat, 22 Sep 2023, 00:00 WIB | Oleh:
Hasil Studi Terbaru: Bunga Rafflesia Terancam Punah Doc: PERDIANSYAH / AFP
Ket. Petugas mengukur bunga Rafflesia Arnoldi yang sedang mekar di pusat konservasi bunga Rafflesia Arnoldi, di Pematang Kota Agung Utara, beberapa waktu lalu. Rafflesia hidup pada tanaman merambat tropis di seluruh Asia Tenggara.

BANGKOK - Hasil studi oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam yang dirilis pada Rabu (20/9) menunjukkan sebagian besar spesies bunga Rafflesia, yang telah lama menarik perhatian karena kelopak bunga merahnya yang sangat besar, kini terancam punah.

Dikutip dari The Straits Times, Rafflesia sebenarnya adalah parasit, dan hidup pada tanaman merambat tropis di seluruh Asia Tenggara, menghasilkan bunga yang termasuk yang terbesar di dunia.

Tanaman ini seperti teka-teki, dengan bunganya yang muncul secara tidak terduga, dan para ahli botani hanya mempunyai keberhasilan yang terbatas dalam membiakkan di luar lingkungan alaminya.

"Salah satu spesies bunga itu saat ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah," kata Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

Untuk lebih memahami tumbuhan ini dan status konservasinya, sekelompok ahli botani internasional meneliti 42 spesies Rafflesia yang diketahui dan habitatnya, terutama Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Mereka mengatakan berdasarkan hilangnya habitat hutan secara cepat serta kurangnya strategi konservasi dan rencana perlindungan, tanaman ini menghadapi risiko yang jauh lebih besar dibandingkan yang diketahui sebelumnya.

"Kami memperkirakan 60 persen spesies Rafflesia menghadapi risiko kepunahan yang parah," tulis para peneliti dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Plants, People, Planet.

Lebih Banyak Penelitian

Studi tersebut juga melaporkan beberapa spesies berisiko punah bahkan sebelum mereka diketahui ilmu pengetahuan, mendesak lebih banyak penelitian terhadap tanaman yang tidak biasa ini.

"Kita sangat membutuhkan pendekatan gabungan dan lintas wilayah untuk menyelamatkan beberapa bunga paling menakjubkan di dunia, yang sebagian besar kini berada di ambang kepunahan," kata Chris Thorogood, wakil direktur Kebun Raya dan Kebun Raya Universitas Oxford, yang menjadi penulis utama studi.

Penelitian menunjukkan tanaman ini diyakini tumbuh di wilayah yang terbatas sehingga sangat rentan terhadap perusakan habitat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.