Daur Ulang Bisa Jadi Solusi Kelangkaan Mineral untuk Energi Terbarukan
📅 Senin, 18 Sep 2023, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/AP/Mary Altaffer
Serasu Duran, University of Calgary; Atalay Atasu, INSEAD, dan Clara Carrera, INSEAD
Apakah persamaan perak, silikon, dan galium? Bahan baku yang mahal ini adalah komponen penting untuk beragam teknologi energi surya.
Bagaimana dengan neodimium, praseodimium, dan diprosium? Ketiganya adalah mineral tanah jarang yang digunakan untuk membuat magnet super dalam turbin angin.
Usaha menjaga kesehatan bumi membutuhkan peralihan energi terbarukan secara cepat oleh pemerintah. Emisi karbon global harus dipangkas hingga separuh pada 2030 dan mencapai kondisi bebas emisi (net zero) pada 2050.
Namun, transisi yang lebih ambisius membutuhkan lebih banyak logam dan mineral untuk membangun teknologi energi bersih. Seiring bergesernya sektor energi global dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan, permintaan logam yang berharga-kerap disebut mineral kritis (critical minerals)- terus naik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu contohnya adalah litium, logam yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik. Selama 2018-2022, permintaan litium naik 25% saban tahun. Dalam skenario net zero, permintaan litium pada 2040 akan melonjak 40 kali lipat dari tahun 2020.
Permintaan dan penawaran
Dunia saat ini menghadapi tantangan pasokan dan kebutuhan yang tidak seimbang. Permintaan mineral kritis diperkirakan melebihi pasokan yang ada. Akhirnya, prinsip dasar ekonomi membuat harga mineral jenis ini lebih tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tantangan lainnya, pasokan mineral kritis tidak merata di seluruh dunia. Pasokan logam ini hanya dikeruk dari beberapa negara saja. Sebagian besar pun diolah di Cina.
Cina, misalnya, mengeruk 60% dan mengolah 90% bahan mineral atau logam tanah jarang global. Bandingkan dengan salah satu produsen utama minyak bumi-Amerika Serikat-yang hanya menguasai 18% penyedotan dan 20% pengolahan di seluruh industri minyak global.
Pasokan yang terkonsentrasi ini membuat hambatan tambahan bagi pasokan mineral tanah jarang. Indonesia sebagai produsen nikel terbesar, misalnya, melarang ekspor bijih nikel untuk memperkuat industri pengolahan di dalam negeri.
Sempitnya keberagaman geografis dalam pasokan ini membuat harga rentan naik-turun. Harga litium, misalnya, naik lebih dari 400% pada 2022 sebelum anjlok 65% pada 2023. Harga tembaga di Peru juga sempat melambung akibat masalah sosial dan blokade pertambangan.
Cina, yang mengontrol 98% pasokan galium, menciptakan kenaikan harga 40% pada 2023 dengan kebijakan pembatasan ketat ekspor karena "alasan keamanan nasional."
Jika hambatan ini terus berlanjut, harga mineral kritis akan menjadi terlalu tinggi. Walhasil penggunaan energi bersih menjadi sangat mahal. Pemerintah-pemerintah pun semakin kelimpungan mencapai target energi bersih mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!