Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Daur Ulang Bisa Jadi Solusi Kelangkaan Mineral untuk Energi Terbarukan

📅 Senin, 18 Sep 2023, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kita harus menyeimbangkan permintaan dan penawaran dengan salah satu dari dua cara: mengurangi kebutuhan mineral kritis atau menaikkan suplainya.

Mengembalikan keseimbangan

Cara paling jelas untuk memulihkan keseimbangan, yaitu dengan lebih banyak menambang, juga cukup rumit. Pertambangan menghancurkan lingkungan dan merusak ekosistem maupun masyarakat di dalamnya. Rencana untuk membuka tambang baru di Prancis, Serbia dan Portugal juga menghadapi banyak penolakan sehingga masa depannya masih belum pasti.

Pembukaan tambang baru juga memakan waktu rata-rata melebihi 15 tahun, jadi proyek yang dimulai hari ini kemungkinan akan terlambat.

Meskipun kapasitas penambangan mungkin bisa ditambah lebih cepat dengan membuka kembali tambang-tambang lama, dan beberapa proyek sedang dalam perjalanan, ketimpangan pasokan bakal tetap terjadi pada 2030.

Selain pertambangan, ada dua pendekatan praktis yang bisa dilakukan. Pertama adalah pengurangan permintaan mineral kritis dengan teknologi energi terbarukan. Dengan inovasi, penelitian dan pengembangan, produk energi bersih dapat didesain ulang untuk menyerap lebih sedikit bahan baku di setiap generasinya.

Sebagai contoh, komponen perak dalam sel surya turun 80% dalam waktu 10 tahun. Begitu juga katoda dalam baterai kendaraan listrik baru yang berisikan kobalt enam kali lipat lebih sedikit dibandingkan sel surya model lama.

Alternatif kedua adalah peningkatan pasokan mineral kritis dengan mengambilnya dari produk teknologi bekas dan lama dengan proses daur ulang canggih. Panel surya yang sudah pensiun mungkin tak bisa menghasilkan energi lagi. Alat ini masih bisa menjadi sumber perak ataupun silikon yang berharga.

Penelitian kami sebelumnya menunjukkan bahwa jumlah solar panel yang terbuang dapat melampaui panel baru pada satu dekade mendatang. Pasalnya, para pemasang cenderung mengganti panel lama dengan panel baru yang lebih efisien.

Dengan mengambil mineral kritis dari limbah ini, dengan proses yang acap disebut "urban mining", kita bisa menutupi permintaan material untuk pemasangan sumber energi terbarukan pada masa depan.

Daur ulang adalah langkah maju

Penelitian terbaru kami bersama rekan, Luk Van Wassenhove, membandingkan konsekuensi ekonomi dari dua pendekatan alternatif di atas.

Jika kelangkaan mineral kritis tidak ekstrem, pengurangan konten mineral kritis dalam produk energi bersih lebih mungkin dilakukan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.