Ini Penyebab Kasus Anak Stunting di Indonesia Masih Tinggi
📅 Jumat, 15 Sep 2023, 11:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Irwansyah Putra
Tantri Liris Nareswari, Institut Teknologi Sumatera
Indonesia telah menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ke-17 di dunia pada 2022. Meski demikian, satu dari lima anak di bawah dua tahun di negeri ini mengalami kurang gizi kronis.
Angka stunting (anak dengan ukuran tinggi kurang dari standar) di Indonesia mencapai 21,6% pada 2022, sebuah angka tertinggi kedua di ASEAN setelah Timor Leste. Masalah ini masih menjadi masalah kesehatan utama yang dihadapi Indonesia.
Stunting selama masa kanak-kanak akan berdampak terhadap kesehatan seumur hidup.
UNICEF menyatakan Indonesia adalah salah satu negara berkembang dengan prevalensi stunting yang tinggi karena masuk dalam lima besar kasus stunting dari 88 negara di dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski terjadi penurunan kejadian stunting di Indonesia selama dekade terakhir, tapi angka ini masih belum sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada 2024, yaitu masing-masing di bawah 20% dan 14%.
Meski pemerintah telah melakukan beberapa intervensi, prevalensi stunting di Indonesia yang masih tinggi menunjukkan bahwa penanganannya masih berjalan lambat. Kita perlu mengurai penyebabnya yang begitu banyak dan kompleks dari level mikro hingga makro.
Stunting dan efek domino
Sebaiknya Anda baca juga:
Stunting secara luas didefinisikan sebagai pertumbuhan yang terbatas.
Maksudnya, status gizi balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umurnya. Pengukuran tingkat stunting dilakukan menggunakan standar pertumbuhan anak dari WHO.
Stunting merupakan penanda dari kekurangan gizi kronis dan dampaknya panjang. Dampak negatif stunting meliputi peningkatan cacat dan angka kematian bayi, serta penurunan kinerja dan perkembangan kognitif.
Selain itu, terjadi peningkatan risiko infeksi, perkembangan psikomotor yang buruk, dan keterlambatan perkembangan anak
Dalam jangka panjang, anak dengan stunting dapat memiliki IQ rendah yang mengakibatkan penurunan kinerja di sekolah. Efek dominonya berlanjut: menurunkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan yang layak. Pada akhirnya, stunting menurunkan kualitas hidup anak saat dewasa.
Selain itu, anak dengan stunting juga berisiko menderita obesitas. Dampak lanjutannya adalah dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan kanker suatu hari nanti.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!