Penyebab 'Stunting' akibat Gagal Pola Asuh
📅 Kamis, 07 Sep 2023, 00:01 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ISTIMEWA
LEBAK - Penyebab stunting atau kekerdilan yang menimpa anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita) itu akibat gagal pola asuh. Penderita stunting bukan dimonopoli oleh keluarga miskin saja, tetapi anak dari keluarga menengah ke atas juga bisa mengalami stunting.
"Stunting itu bukan penyakit, tetapi gagal pola asuh," kata Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sukaryo Teguh Santoso, saat apel siaga Tim Pendamping Keluarga (TPK) Bidan, Kader KB, Kader Tim Penggerak PKK Provinsi Banten, di Lebak, Rabu (6/9).
Seperti dikutip dari Antara, Sukaryo mengatakan penyebab stunting itu karena keluarganya tidak memperhatikan anak dengan baik, sehingga gagal dalam pola asuh, seperti balita rewel diberikan permen, cokelat, manis-manis, dan dipastikan tidak mau makan.
Karena itu, tambah dia, dengan strategi percepatan mengatasi stunting yakni mencegah dari hulu melalui pendekatan keluarga. Landasan hukumnya UU Keluarga Nomor 52 Tahun 2009 tentang Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, dengan upaya tiga hal.
Pertama, tambah Sukaryo, pendewasaan usia pernikahan dan jangan sampai menikah di usia muda. Kedua, pengaturan kelahiran dengan tidak terlalu dekat angka kelahiran. Ketiga, intervensi pembinaan ketahanan keluarga.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami meyakini TPK yang terdiri dari bidan, kader KB, dan kader PKK mampu mengatasi pravalensi stunting," kata Sukaryo.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Rusman Effendi, mengatakan masyarakat Indonesia merasa bersyukur dan berhasil menurunkan pravalensi stunting dengan data tahun 2021 mencapai 24,4 persen dan pada 2022 menurun 21,6 persen, sehingga turun 2,8 persen.
Rekor Terbaik
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurunnya, pravalensi stunting itu sebagai rekor yang terbaik karena pada tahun-tahun sebelumnya menurun rata-rata 0,5 persen sampai 1,8 persen.
Sebetulnya, kata Rusman, bukan hanya menurun stunting, namun tujuannya yang lebih penting untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas karena tantangan bangsa pada tahun emas 2045 luar biasa. Apabila sekarang itu tidak dipersiapkan, tentu pada generasi emas hanya sebagai retorika saja.
Rusman mengatakan seperlima balita yang sekarang tentu 20 tahun ke depan, tepatnya 2045, menjadi penduduk produktif yang seharusnya pada usia 25 dan 30 tahun menjadi pemimpin atau CEO perusahaan atau paling tidak menjadi menteri.
Dengan demikian, seperlima balita sekarang itu ke depan harus memegang tampuk pimpinan di negara sendiri.
Ciri-ciri stunting itu, kata dia, kondisinya pertama pendek akibat gagal tumbuh. Kedua, lambat berpikir dan ketiga setelah dewasa mudah terserang penyakit generatif. Selama ini, BKKBN bekerja keras dengan mitra kerja untuk menurunkan pravalensi kasus stunting.
Perkembangan angka stunting di Provinsi Banten tahun 2021 sebanyak 24,5 persen dan tahun 2022 mencapai 20 persen, sehingga menurun 4,5 persen. Begitu juga keluarga berisiko stunting mengalami penurunan dari 1,3 juta pada 2021 menurun 60 persen lebih atau 532 ribu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!