Dampak Tewasnya Prigozhin bagi Pemerintah Rusia dan Nasib Perang di Ukraina
📅 Sabtu, 02 Sep 2023, 13:06 WIB | Oleh: Tim PenulisKesempatan bagi Ukraina
Tewasnya Prigozhin meninggalkan ketidakpastian di dalam Wagner Group yang tidak hanya kehilangan komandan dan pendirinya, tetapi kini dituntut untuk tunduk di bawah sistem komando militer Rusia guna mencegah pemberontakan serupa terjadi. Selain itu, jenderal yang dipuji Prigozhin, Sergei Surovikin, juga disingkirkan dari jabatannya.
Padahal, Wagner dan Surovikin dianggap lebih efektif dalam menjalankan peperangan, seperti merebut kota Bakhmut setelah pertempuran berbulan-bulan. Sementara, pasukan resmi Rusia mengalami kemandekan sejak musim panas 2022.
Saat ini, militer Rusia tidak hanya mengalami masalah logistik dan koordinasi, tetapi juga kekurangan sumber daya, terutama setelah banyaknya tentara unggulan yang gugur dalam percobaan serangan pertama ke Kyiv, ibu kota Ukraina, di awal peperangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidak adanya sosok Prigozhin dan Surovikin dapat dimanfaatkan Ukraina untuk melakukan serangan balik terhadap wilayahnya yang dikuasai Rusia, terutama di daerah selatan.
Ukraina mendapat motivasi kembali untuk melancarkan operasi perlawanan di tengah kelelahan akibat perang berkepanjangan dan mengalami kerugian jiwa maupun materiil.
Secara umum, Ukraina dapat diuntungkan dari tiga sisi, yaitu 1) tidak perlu lagi menghadapi pasukan Wagner yang independen, 2) peningkatan moril karena melihat masalah internal yang terjadi di Rusia, dan 3) menguatkan argumen mereka untuk meminta bantuan senjata berteknologi tinggi pada Barat karena merasa yakin Rusia tidak akan merespons secara serius terhadap NATO.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana Ukraina memanfaatkan kondisi ini adalah hal yang menarik untuk diikuti, mengingat saat ini militer Ukraina tengah berusaha memecahkan garis pertahanan Rusia di wilayah selatan-yang bisa berpengaruh pada jalannya perang.
"Taruhan" rezim Putin
Tiadanya Prigozhin mengarahkan militer Rusia menuju sentralisasi, dengan setiap pasukan paramiliter diwajibkan untuk setia pada pemerintah pusat. Hal ini akan menjadi "taruhan tersendiri" bagi Putin dan Shoigu. Masa depan mereka bisa saja sangat bergantung pada perkembangan kampanye militer mereka di Ukraina.
Memang, wilayah Rusia sendiri terhindar dari kekerasan bersenjata dan kehidupan di kota-kota besar relatif berjalan normal. Namun, akhir-akhir ini, serangan sporadis drone Ukraina mulai masuk ke beberapa kota di Rusia, seperti pusat bisnis di Moskow dan apartemen di Kursk.
Ini tentunya sangat mengganggu masa-masa menjelang Pilpres Rusia 2024. Putin diyakini sedang berusaha untuk terpilih kembali sebagai presiden Rusia untuk periode kelima (2024-2030).
Ditambah lagi, nilai tukar rubel jatuh dan muncul berbagai kendala teknis lainnya, seperti sulitnya Putin mengadakan perjalanan internasional karena surat perintah penangkapan dirinya dari International Criminal Court (ICC) atas dugaan kejahatan perang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!