Disinformasi Jelang Pemilu, AI Bisa Memperparah Penyebaran Hoaks
📅 Kamis, 31 Agu 2023, 11:45 WIB | Oleh: Tim PenulisAncaman AI semakin diperparah oleh kemampuannya untuk memanipulasi struktur dan presentasi teks. Generative AI seperti ChatGPT, misalnya, bisa membuat konten disinformasi dengan cepat. Algoritme AI lainnya juga bisa membuat foto, video, dan suara artifisial tampak sangat meyakinkan (deepfake).
Penelitian menunjukkan bahwa orang lebih sulit mendeteksi konten palsu yang dihasilkan AI dibandingkan dengan yang dibuat oleh manusia. Ini karena sifat terstruktur dan ringkas dari konten yang dihasilkan AI, membuatnya lebih mudah dipahami dan meyakinkan.
Menangani bahaya disinformasi dari AI memerlukan pendekatan teknologi dan partisipasi masyarakat. Ironisnya, dari perspektif teknis, AI bisa digunakan untuk menyebarkan disinformasi, tapi juga dapat menjadi alat untuk melawan disinformasi dan mengembalikan kepercayaan.
Salah satu contoh dampak positif AI adalah penggunaan teknik Pemrosesan Bahasa Alami (NLP) untuk membedakan narasi yang asli dan yang palsu. Inisatif awal sudah dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan perusahan start-up Prosa.ai. Mereka meluncurkan chatbot antihoaks berbasis NLP di Telegram.
Sebaiknya Anda baca juga:
Algoritme tersebut tentunya perlu terus dikembangkan dan diperbarui agar tetap akurat dalam menghadapi konten AI yang semakin kompleks.
Pemerintah Indonesia juga bisa belajar dari Uni Eropa yang telah mengoperasikan European Union's Disinformation Lab dengan menyebarkan berbagai materi yang dibuat melalui bantuan AI guna mendidik masyarakat dalam melawan disinformasi di era digital.
Selain aspek teknologi, komitmen publik dalam melawan disinformasi yang dihasilkan oleh AI juga tak kalah pentingnya. Ini dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun kelompok organisasi sipil dengan melatih literasi digital masyarakat, agar mereka bisa lebih kritis, hati-hati, dan lebih berdaya dalam berinteraksi dengan konten digital.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pentingnya cek fakta
Tindakan berbagi informasi yang bertanggung jawab dan inisiatif verifikasi fakta bisa menjadi benteng melawan penyebaran disinformasi.
Di Indonesia, komunitas dan media arus utama telah memberikan kesempatan bagi individu untuk memverifikasi fakta. Jurnalis juga semakin didorong untuk melakukan jurnalisme pemeriksaan fakta. Meskipun masih menghadapi kendala sumber daya dan kecepatan, setidaknya ini telah membantu meredam laju penyebaran disinformasi.
Dengan menggabungkan teknologi AI dan partisipasi masyarakat, perjuangan melawan disinformasi bisa menjadi lebih terkoordinasi dan efisien. Kolaborasi antara pengembang AI, ahli, dan pemeriksa fakta menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan dengan tepat dalam melawan disinformasi.
Intinya, meskipun AI sangat berpotensi menjadi alat penyebar disinformasi, teknologi ini juga mampu mendeteksi dan menangkalnya. Ini tergantung sejauh mana kita bijak menggunakannya dan bagaimana terbangun kerja sama sinergis antara upaya meningkatkan literasi media dan keterampilan kritis masyarakat.![]()
Arif Perdana, Associate Professor Digital Strategy and Data Science, Monash University
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!