Disinformasi Jelang Pemilu, AI Bisa Memperparah Penyebaran Hoaks
📅 Kamis, 31 Agu 2023, 11:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Stokkete
Arif Perdana, Monash University
Artikel ini adalah bagian dari serial #LawanHoaks2024.
Fenomena disinformasi, alias suatu info yang diketahui salah lalu disebarkan dengan sengaja, sebenarnya sudah ada sejak peradaban Romawi Kuno.
Pada tahun 33 Sebelum Masehi (SM), Kaisar Octavianus Augustus, pewaris tahta dari pemimpin diktator Romawi, Gaius Julius Caesar, menggunakan disinformasi untuk merusak reputasi saingannya, Mark Antony, dan mendapatkan lebih banyak dukungan dari publik Romawi.
Bedanya, pada era digital ini, penyebaran disinformasi menjadi sangat cepat karena berkembangnya teknologi, diperkuat oleh algoritme kecerdasan digital (artificial intelligence/AI).
Sebaiknya Anda baca juga:
Era AI ini telah merevolusi segala lini industri dan kehidupan masyarakat, membawa kemajuan sekaligus tantangan. Salah satu dampak AI yang cukup mengkhawatirkan adalah memperburuk fenomena disinformasi, terutama menjelang tahun politik.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa masalah ini bukan semata kesalahan teknologi; akarnya juga ada di psikologi manusia. Ini karena disinformasi terkait erat dengan bias kognitif (kesalahan dalam berpikir dan menilai secara alam bawah sadar) yang dimiliki oleh manusia.
Penelitian menunjukkan bahwa manusia tertarik pada narasi yang membentuk identitas, menguatkan keyakinan, dan sejalan dengan perspektif sosial dan politik mereka, meskipun narasi tersebut palsu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti yang diungkapkan oleh Cass R. Sunstein, profesor hukum dari Harvard Law School di Amerika Serikat (AS), bahwa daya tarik disinformasi terletak pada kemampuannya untuk membangkitkan emosi manusia, seperti rasa takut dan harapan, dan penyebarannya didorong oleh beragam motivasi, mulai dari kepentingan pribadi hingga niat jahat.
Kondisi penyebaran disinformasi ini punya potensi menjadi lebih marak dan parah, dengan adanya AI yang memiliki kemampuan menciptakan dan mengamplifikasi disinformasi sehingga dapat merusak tatanan demokrasi.
Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu 2024), dampak AI kepada disinformasi ini dapat memperburuk kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah dan penyedia informasi seperti media massa, serta memperdalam polarisasi sosial.
Cara AI memperburuk disinformasi
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap pemilihan global dicemari oleh aliran disinformasi yang didukung oleh AI.
Bagaimana cara AI melakukannya?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!