Disinformasi Jelang Pemilu, AI Bisa Memperparah Penyebaran Hoaks
📅 Kamis, 31 Agu 2023, 11:45 WIB | Oleh: Tim PenulisIni bisa terjadi karena algoritme AI dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, yang kemudian turut mempromosikan konten informasi yang salah.
Oleh karena itu, algoritme memiliki kemampuan mengarahkan individu masuk ke echo chamber alias ruang gema yang sangat mungkin berisi disinformasi. Ruang gema adalah lingkungan di dunia maya yang membuat seseorang hanya menerima informasi, ide, dan gagasan yang homogen atau sesuai dengan pemikiran mereka secara terus menerus.
Pemilihan Presiden AS 2016 menjadi contoh nyata fenomena ini. Teori konspirasi daring "PizzaGate", yang menyatakan ada kegiatan pedofilia di dalam tubuh pemerintah AS, dipropagandakan melalui unggahan yang mengklaim Hillary Clinton menjalankan jaringan seks anak-anak di sebuah gerai pizza Comet Ping Pong di Washington DC.
Tuduhan tak berdasar ini kemudian semakin disebarluaskan oleh algoritme AI di media sosial, yang pada akhirnya memanipulasi opini publik dan menyebarkan kebingungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dampak disinformasi daring juga terjadi pada pemilu Nigeria 2023. Laporan BBC mengungkap politikus membayar influencer untuk menyebarkan disinformasi.
Menjelang 2023, jumlah berita palsu meningkat pesat di media sosial di Nigeria, menargetkan kandidat presiden. Paradoksnya, media sosial di Nigeria, khususnya Twitter, berperan besar dalam penyebaran berita pemilu yang kredibel tapi sekaligus menjadi sumber utama disinformasi.
Di Indonesia, pada pemilu 2014 dan 2019 ada konten-konten disinformasi berupa teks dan foto yang digunakan untuk memengaruhi sentimen publik. Contohnya foto laki-laki mirip Jokowi hadir di kampanye D.N. Aidit yang menyebabkan Jokowi dituduh sebagai antek Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sebaiknya Anda baca juga:
Beredar pula narasi-narasi palsu dibuat untuk mengangkat dan menghancurkan kandidat-kandidat yang bersaing di pemilihan, menyebabkan ketidakpercayaan dan kebingungan di antara pemilih.
Sebagai contoh, narasi palsu bahwa mantan perwira tinggi militer Prabowo Subianto, yang kini ketua Partai Gerindra sekaligus bakal calon kandidat presiden untuk Pemilu 2024, diberhentikan "secara tidak hormat" dari institusi TNI. Padahal kenyataannya Prabowo diberhentikan dengan hormat. Keterangan yang diubah hanya perihal hormat dan tidak hormat, tetapi ini akan sangat memengaruhi sentimen publik terhadap Prabowo.
Ada pula survey palsu yang muncul jelang Pemilu 2014 yang menyatakan Prabowo akan memenangkan pilpres. Lalu pada Pemilu 2019, beredar narasi palsu berupa data yang diklaim berasal dari intelijen TNI yang menyebutkan Prabowo telah memenangkan Pilpres.
Menjelang pemilu 2024 ini, apa yang harus kita persiapkan, mengingat teknologi Generative AI sudah berkembang? Ditambah lagi, disinformasi yang menyebar di pemilu 2024 nanti tidak hanya teks tetapi juga audio dan video.
Melacak disinformasi di media sosial berbasis video seperti TikTok juga menjadi semakin sulit karena menggunakan format audiovisual, bahasa 'gaul', dan fitur pencarian yang terbatas.
Langkah melawan disinformasi
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!