Kampus Asing Masuk Indonesia, Pentingnya Penguatan Perspektif Lokal
📅 Selasa, 22 Agu 2023, 09:39 WIB | Oleh: Tim PenulisTemuan ini serupa dengan apa yang dipaparkan oleh Stuart Perrin, bahwa tubuh dan otak mahasiswa lokal seolah diharapkan untuk berfungsi semirip-miripnya dengan bagaimana penutur asli bahasa Inggris atau orang-orang dari negara pengekspor kurikulum berpikir dan bertindak.
Perkuat perspektif lokal
Untuk menjamin program kemitraan pendidikan lintas negara bisa membawa manfaat bagi mahasiswa Indonesia, perlu adanya kebijakan dan perencanaan bahasa yang jelas dan menyeluruh.
Perencanaan kebijakan bahasa yang mengatur posisi Bahasa Inggris serta mengakui keberadaan, fungsi, dan kontribusi bahasa-bahasa lain (seperti bahasa Indonesia dan bahasa lokal) dalam proses belajar mengajar akan mempersiapkan mahasiswa Indonesia untuk menjadi individu-individu multilingual dan multikultural yang kompeten.
Sebaiknya Anda baca juga:
Artinya, mahasiswa tidak hanya fasih berbahasa asing, tetapi juga mampu menggunakan pembendaharaan semua bahasa dan budaya yang mereka miliki sebagai sumber pemikiran kritis dan pemecahan masalah.
Di akhir ulasannya, Perrin merekomendasikan beberapa pertanyaan yang patut diperhatikan, seperti sejauh mana penggunaan bahasa selain bahasa Inggris diperbolehkan dan dalam konteks apa saja; sejauh mana bahasa Inggris dijadikan alat ukur penilaian; sejauh mana bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa kerja dan pembekalan-pembekalan apa yang akan diberikan kepada semua pihak terkait.
Perrin juga menyatakan pentingnya mengakui keberadaan dan fungsi bahasa-bahasa selain bahasa Inggris yang digunakan oleh pemangku-pemangku kepentingan di institusi lokal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Buku kumpulan studi kasus kemitraan pendidikan lintas negara di berbagai negara, menekankan pula pentingnya memastikan bahwa program-program tersebut relevan untuk nilai-nilai lokal dan pentingnya mempertimbangkan suara mahasiswa lokal untuk membantu memaksimalkan potensi dan manfaat program tersebut untuk negara tuan rumah.
Mempertimbangkan perspektif lokal dalam perencanaan kebijakan kemitraan pendidikan lintas negara di Indonesia bukan merupakan bentuk kecurigaan terhadap pihak asing, tetapi sebagai bentuk perlindungan terhadap mahasiswa Indonesia dalam proses belajar mereka serta terhadap bahasa dan budaya yang kita punya.![]()
Billy Nathan Setiawan, PhD Candidate in Applied Linguistics, University of South Australia
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!