Murid Bereksplorasi di Kurikulum Merdeka, Guru Jangan Lepas Tangan
📅 Kamis, 03 Agu 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPenguasaan murid atas pengetahuan dasar, yang biasanya abstrak, akan membantu mereka melihat aplikasi konsep dalam berbagai konteks di dunia nyata. Guru berperan besar dalam proses ini. Tugas guru adalah mendesain kegiatan yang membantu murid melihat keterkaitan ini, utamanya lewat pengajaran instruksional.
Jika pemahaman pengetahuan dasar ingin dicapai melalui projek, ada banyak jalan untuk melakukannya. Salah satunya melalui "inductive learning" sebelum projek berlangsung. Kegiatan pembelajarannya meliputi: eksplorasi contoh-contoh baik yang dipilih guru, memformulasikan rules atau konsep (pengetahuan proposisional) dengan panduan guru, menguji atau mencoba aplikasinya (pengetahuan prosedural), mendapat umpan balik dari guru, merevisi rules atau konsep agar makin kukuh, dan mendapat konfirmasi dari guru.
Tanpa proses ini, pengetahuan berisiko tersampaikan melalui cara yang ambigu atau projek berjalan sekadar "coba-coba" saja.
Sayangnya, panduan yang tersedia tidak melibatkan kegiatan-kegiatan serupa sebagai bagian dari pembelajaran berbasis projek dan tidak menggarisbawahi peran guru dalam prosesnya. Tanpa hal ini, bisa terwujud kekhawatiran bahwa banyak guru menggunakan Kurikulum Merdeka untuk kemudian lari dari tanggung jawab mengajar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bukan membatalkan pembelajaran berbasis projek, tapi meyempurnakannya
Kemdikbudristek memang tengah bergairah menggaungkan pembelajaran aktif. Oleh karena itu, tuntutan kami agar guru menyisipkan pengajaran instruksional barangkali akan dipandang beberapa pihak sebagai anjuran untuk "kembali pada pembelajaran yang berpusat pada guru". Bisa juga, mereka akan melihat pembelajaran berbasis projek menjadi kurang berorientasi pada murid.
Namun, solusi yang kami tawarkan bukan menunda penerapannya tetapi memastikan bahwa panduan yang digunakan itu berbasis riset dan praktik baik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Harapannya, pengajaran instruksional menjadi bagian penting dalam prosesnya. Ini penting agar murid menguasai materi esensial yang diperlukan supaya projek yang mereka jalani jadi lebih bermakna.![]()
Puji Astuti, Associate Professor of ELT Methodology, Universitas Negeri Semarang dan Teguh Kasprabowo, Assistant Professor of Creative Writing, Universitas Stikubank Semarang
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!