Penyebab Turis Berperilaku Buruk di Lokasi Wisata: Instagram
📅 Senin, 31 Jul 2023, 10:43 WIB | Oleh: Tim PenulisBali merupakan salah satu destinasi wisata yang reputasi pariwisatanya disokong oleh ketenarannya media sosial. Pulau yang indah, penuh dengan retret yoga, menjadi daya tarik besar bagi para influencer (orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi perilaku orang lain).
Sejak Juni 2023, Bali mengeluarkan aturan baru bagi para wisatawan terkait kewajiban perilaku yang baik di area pura, di sekitar pulau, dan dengan penduduk setempat serta menghormati lingkungan alam. Aturan ini keluar untuk merespons maraknya perilaku buruk wisatawan yang berlibur di sana.
Wisatawan di Bali sekarang harus mengantongi izin dari otoritas setempat untuk bisa menyewa sepeda motor. Mereka tidak boleh menginjakkan kaki di gunung atau gunung berapi mana pun di pulau itu karena area-area tersebut dianggap sakral. Wisatawan hanya boleh menginap di hotel dan vila yang terdaftar (ini memang akan berdampak pada sejumlah properti Airbnb). Otoritas Bali juga membentuk "gugus tugas turis" untuk menegakkan aturan dan pembatasan melalui penggerebekan dan investigasi, jika diperlukan.
Salah satu pedoman yang tertera dalam aturan tersebut adalah untuk tidak bertindak agresif atau menggunakan kata-kata kasar terhadap penduduk setempat, pejabat pemerintah atau turis lainnya, baik saat berada di Bali atau melalui media online. Aturan ini menyasar tentang masalah bagaimana media sosial berkontribusi menjadi bagian dari penyebab para turis berperilaku buruk.
Sebaiknya Anda baca juga:
Negara lain yang telah menerapkan langkah serupa untuk destinasi-destinasi wisatanya adalah Islandia, Hawaii, Palau, Selandia Baru, Kosta Rika. Mereka mewajibkan para turis berjanji untuk mematuhi hukum dan adat kebiasaan setempat. Kampanye-kampanye seperti "No Drama" (Jangan Ada Drama) di Swiss, "See Vienna - not #Vienna" (Kunjungi Wina - bukan #Wina) di Austria, "Be more like Finn" (Bersikaplah seperti orang Finlandia) di Finlandia, dan "How to Amsterdam" (Bagaimana Ber-Amsterdam) di Belanda bertujuan untuk mendorong para wisatawan untuk berkelakuan baik.
Ketika upaya-upaya semacam itu tidak berhasil, beberapa tempat, seperti Teluk Maya yang terkenal di Thailand, mengambilnya langkah lebih jauh dengan sepenuhnya menutup destinasi itu bagi wisatawan, setidaknya untuk sementara.
Berliburlah dengan beradab
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat bepergian, ingatlah bahwa kita adalah tamu dari tuan rumah destinasi tujuan kita. Berikut adalah beberapa cara untuk lebih bisa menjaga sikap ketika mengunjungi tempat wisata.
1. Lakukan riset terlebih dahulu
Bahkan jika kamu adalah seorang wisatawan musiman, kamu mungkin tidak menyadari dampak tindakanmu terhadap komunitas lokal. Sedikit banyak informasi yang kamu peroleh - bisa dari melakukan riset sendiri atau mendapat informasi dari pemerintah daerah setempat - bisa cukup membantumu untuk mengetahui bagaimana sebaiknya berperilaku yang tepat di tempat tersebut. Sebelum kamu mendatangi tempat itu, carilah pedoman atau informasi tentang norma budaya setempat dan situasi keamanan di sana.
Apakah kamu setuju atau tidak dengan adat istiadat dan kebiasaan di daerah tersebut, itu soal lain. Jika kamu mengunjungi tempat wisata yang lebih konservatif dari lingkunganmu biasanya, kamu harus berhati-hati - jangan seperti dua influencer yang ditangkap karena melakukan hal tidak etis di sebuah pura di Bali.
2. Simpan dulu ponselmu
Penelitian menunjukkan bahwa saat bepergian, orang dapat menjadi terasing dari lingkungannya jika mereka lebih fokus pada perangkatnya daripada pada tempat itu sendiri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!