Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengapa NATO Perluas Pengaruhnya ke Wilayah Asia Pasifik?

📅 Sabtu, 15 Jul 2023, 10:03 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kedua, kita juga dapat melihat kesepakatan ini dalam konteks perkembangan pengaruh NATO secara global selama beberapa dekade terakhir.

Sebelumnya, kolaborasi NATO dengan negara-negara Indo-Pasifik hanya mencakup pengumpulan sumber daya untuk operasi keamanan di negara-negara non-NATO, seperti Balkan pada tahun 1990-an dan Afghanistan pada tahun 2000-an.

Saat ini, bagi NATO, memperkuat kemitraan dengan Indo-Pasifik merupakan bagian penting dalam menghadapi tantangan dan ancaman baru yang ditimbulkan oleh Rusia dan Cina.

Tentu saja kemitraan ini tidak berarti NATO akan menempatkan peralatan atau pasukan militernya secara permanen di Indo-Pasifik. Juga tidak realistis jika mengharapkan kontribusi militer negara-negara Indo-Pasifik ke Ukraina.

Demikian pula, jika tujuan semua ini adalah untuk mengintensifkan kerja sama keamanan di antara sekutu AS di Indo-Pasifik, sama sekali tidak terlihat akan ada pembentukan pakta pertahanan kolektif - seperti NATO - di wilayah tersebut.

Namun, mengingat kompleksitas ketegangan sekutu NATO saat ini dengan Rusia dan Cina, jelas dibutuhkan koordinasi dan kerja sama yang lebih besar dengan kelompok negara yang lebih besar. Kemitraan baru ini bisa efektif dalam menangani segala hal, mulai dari disinformasi dan keamanan maritim hingga pertahanan dunia maya dan persaingan di wilayah luar angkasa.

Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin jelas lebih menginginkan kemitraan ini berjalan lambat. Cina juga telah mengkritik usulan pembentukan kantor penghubung NATO di Tokyo dan menyebut usulan itu sebagai upaya untuk "menghancurkan perdamaian dan stabilitas regional".

Cina dan Rusia merasa tenang karena melihat perbedaan yang jelas antara keempat negara itu terkait tingkat keterlibatan yang mereka inginkan dengan NATO.

Namun, keempat negara Indo-Pasifik itu dapat menyepakati satu fakta fundamental: bahwa mereka akan menghadapi lebih banyak, bukan malah berkurang, persaingan dengan Cina dan Rusia di masa depan.The Conversation

Gorana Grgi?, Senior Lecturer, Department of Government and International Relations and US Studies Centre, University of Sydney

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.