Kronisme dan Oligarki Mematikan Demokrasi
📅 Selasa, 11 Jul 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiJika mencermati data Bank Indonesia (BI) maka Foreign Direct Investment (FDI) yang hanya satu setengah persen dari Gross Domestic Produk (GDP) terus menurun. Itu pun, Penanaman Modal Asing (PMA) langsung itu bukan ke sektor manufaktur yang memberi nilai tambah, namun lebih ke pertambangan, smelter (fasilitas pemurnian), dan listrik batu bara, bukan high added value. Makanya, pembangunan infrastruktur yang bagus tidak membangkitkan ekonomi karena tidak ada yang ke sektor riil.
"Yang dibantu kroni makanya tidak ada yang mau invest pangan. Mereka lebih enak dan gampang untuk impor pangan karena untungnya lebih besar. Maka jangan heran, impor pangan kita bisa menembus 15 miliar dollar AS per tahun. Itu menekan GNP karena devisa kita untuk makan," katanya.
Negara yang menikmati semua itu adalah Singapura yang dicatat sebagai negara investor terbesar ke Indonesia. Padahal, Singapura sebenarnya bukan investor, tapi pembeli surat utang, jadi itu bukan investasi, tapi tepatnya disebut kreditor.
"Anehnya, BI memasukkan itu sebagai investor. Mana bisa. Kalau dicek catatan investasi langsung Singapura di mana saja? Tidak ada, yang ada mereka beli surat utang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal-hal seperti itu membunuh GNP. GNP kita itu hanya dari makan, konsumsi," katanya.
Jika dibandingkan dengan Jepang dan Jerman atau negara-negara maju lainnya, tidak akan ada investor yang mau datang kalau ICOR Indonesia 7,6 dan produktivitas pekerjanya turun. Walau gaji di Indonesia lebih murah dibanding Vietnam, tapi perbandingannya satu pekerja Vietnam setara dengan dua orang Indonesia dalam hal tingkat produktivitasnya.
Maka dari itu, produk tekstil Indonesia tidak bisa bersaing dan pabriknya pada tutup karena akar fundamentalnya yang keropos. Keroposnya fundamental ekonomi itu karena pembiaran. Pemerintah sebenarnya bukan tidak mengerti, tetapi semua yang melakukan itu teman mereka atau oligarki mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Masa ada kroni Orba dipelihara di zaman sekarang. Kok mau? Kroni pemerintah yang zaman reformasi dia lawan, tapi sekarang dia pelihara. Apa bedanya dong yang sekarang dengan yang dahulu," katanya.
Lihat saja data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dimana satu persen penduduk menguasai 90 persen jumlah tabungan. Bagaimana memperbaiki kondisi tersebut, mau tidak mau harus menghentikan praktik kronisme.
"Itu sumber masalahnya. Kepentingan mereka itu jangka pendek, tidak memikirkan kepentingan rakyat, tapi berpikir untuk dirinya dan kelompoknya yang kecil. Kronisme dan oligarki itulah yang mematikan demokrasi," tutupnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!