Sejarah Kelam Perburuan Trenggiling yang Bikin Satwa ini Nyaris Punah
📅 Senin, 10 Jul 2023, 10:57 WIB | Oleh: Tim Penulis'Budidaya' trenggiling yang nyaris mustahil
Apakah trenggiling mudah untuk dikembang biakkan di luar habitat aslinya? Para ahli menyimpulkan sangat susah.
Bahkan, sekalipun dikomersialkan, bisnis 'budidaya' trenggiling diduga bakal sulit balik modal dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya pemahaman ekologi dan fisiologi satwa tersebut.
Pakan utama trenggiling juga sangat spesifik: harus mengandung asam semut. Pakan ini hanya tersedia mayoritas dari telur, pupa, larva semut, serta dari kelompok rayap serta mikrofauna lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara komersial, harga pakan alami trenggiling sangat mahal. Kombinasi pakan alternatif ataupun pakan substitusi juga belum tersedia di pasaran.
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), membuktikan bahwa meski individu trenggiling muda yang diteliti mampu tumbuh berkembang dengan sangat baik, masih ada kesulitan modifikasi pakan alami serta pengkayaan (enrichment) fasilitas tangkaran untuk tujuan perkembangbiakan.
Itulah sebabnya kesuksesan pengembangbiakan trenggiling di tingkat lembaga konservasi (kebun binatang) masih sangat jarang dilaporkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, klaim dari para penangkar komersil trenggiling yang menyatakan keberhasilan mereka dalam mengembangbiakkan trenggiling secara komersil masih dipertanyakan para ahli dan belum terbukti kebenarannya.
Oleh karena itu, perlindungan populasi trenggiling semestinya tak mengandalkan upaya budi daya. Kelestarian populasi harus ditopang oleh kemauan politik negara-negara konsumen (pengimpor) untuk melarang konsumsi dan penggunaan sisik trenggiling secara bertahap.
Negara-negara 'pengekspor' pun harus mengatasi perburuan dengan meningkatkan kesadaran konservasi spesies ini. Perlu juga mengupayakan solusi pendapatan alternatif sehingga para pemburu trenggiling dapat beralih pekerjaan.
Harapannya, perburuan trenggiling yang sudah berlangsung berabad-abad bisa terus menurun dan pada akhirnya tinggal sejarah.![]()
Gono Semiadi, Manajer Kebijakan pada Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Ni Luh Putu Rischa Phadmacanty, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Wirdateti, Reseacher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!