Peduli Autisme, Dosen Psikologi UPH Jadi Sumber Inspirasi
📅 Rabu, 05 Jul 2023, 16:32 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Muhamad Ma'rup
Fransisca Febriana Sidjaja tak pernah terpikir berkarier sebagai dosen psikologi. Semasa kecil dia justru bercita-cita menjadi seorang astronot. Hal tersebut berubah setelah dia lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA).
Perempuan yang karib disapa Febri itu merasa bahwa jurusan Psikologi adalah pilihan yang tepat untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Sejak saat itu, minatnya terhadap psikologi pun tumbuh.
"Bagi saya, menjadi seorang dosen adalah sebuah panggilan. Saya tidak pernah bermimpi menjadi seorang dosen, terlebih menjadi dosen full time seperti sekarang. Never in my dream," ujar Febri, dalam keterangannya kepada Koran Jakarta, Rabu (5/7).
Sejak Juli 2022, Febri menjadi dosen tetap di UPH. Dia bertanggung jawab untuk mengajar mata kuliah Psikologi Perkembangan, Kesehatan Mental, Kode Etik, serta Pelatihan dan Pengembangan.
"Saya memutuskan bergabung dengan UPH karena nilai-nilai yang ditanamkan kepada mahasiswa sejalan dengan nilai-nilai yang saya anut, yaitu untuk mendidik generasi masa depan yang takut akan Tuhan, menjadi pemimpin masa depan, dan menjadi agen perubahan bagi bangsa dan negara," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Febri memiliki perhatian terhadap anak dan remaja berkebutuhan khusus. Dia berkomitmen untuk memberikan perhatian dan dukungan yang mendalam kepada mereka.
Dalam perannya sebagai dosen dan praktisi psikologi anak, Febri berusaha mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Dia memperlengkapi orang tua anak dan remaja berkebutuhan khusus dalam meningkatkan kesejahteraan mental dan memaksimalkan potensi anak-anak mereka.
Keterlibatannya yang kuat dan dedikasinya yang tinggi dalam pekerjaan menjadikan Febri sebagai sumber inspirasi dan berkat bagi keluarga anak dan remaja berkebutuhan khusus yang membutuhkan bantuannya. Ketika praktik, dia sering mendengar keluhan para orang tua yang menghadapi kesulitan dalam mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus seperti Autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), kesulitan belajar, dan masalah-masalah emosi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pengalaman-pengalaman tersebut mendorong saya untuk menekuni bidang psikologi klinis yang berfokus pada kasus-kasus tumbuh kembang anak dan remaja, khususnya Autisme," jelasnya.
Dari semua pencapaian yang ia miliki, Febri merasa puas ketika saran-saran yang diberikan kepada klien dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus bertumbuh lebih optimal dan bahagia. Selain itu, dia juga merasa puas saat dapat memberikan teladan dan menjadi role model yang positif bagi mahasiswa, dan bagi anaknya sendiri. Baginya, kepuasan tersebut tidak dapat dibeli dengan uang.
"Indonesia masih membutuhkan banyak praktisi yang peduli terhadap keluarga yang memiliki anak-anak dengan kondisi perkembangan khusus. Saya ingin menjadi berkat dengan membantu mereka meraih potensi diri yang optimal," katanya.
Febri berpesan bahwa pengetahuan dan keterampilan merupakan modal penting bagi seorang psikolog anak dan remaja. Seorang psikolog harus memiliki kemampuan klinis, riset, kerja sama, interpersonal, dan kepemimpinan.
"Menjadi seorang psikolog klinis anak dan remaja bukan hanya memerlukan kecerdasan, tetapi juga hati yang memedulikan sesama," terangnya.
Segudang Prestasi
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!