Kerja sama Ilmuwan-Masyarakat Sukses Petakan Sebaran Kupu-kupu di Jabodetabek
📅 Senin, 03 Jul 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Nurul Laksmi Winarni, Universitas Indonesia
Kupu-kupu yang lucu. Ke mana engkau terbang. Hilir mudik mencari. Bunga-bunga yang kembang.
Potongan lirik lagu anak-anak karangan Saridjah Niung atau Ibu Sud di atas benar-benar menggambarkan kupu-kupu dan kebutuhannya, yaitu tanaman berbunga. Kupu-kupu membutuhkan tumbuhan untuk meletakkan telurnya, membesarkan larva, dan melekatkan kepompongnya. Kupu-kupu juga membutuhkan tanaman berbunga untuk sumber nektar makanannya saat dewasa.
Selain sebagai polinator (serangga penyerbuk) dan bagian dari rantai makanan, kehadiran populasi kupu-kupu yang beragam dapat menunjukkan kesehatan ekosistem perkotaan. Sebab, kupu-kupu rentan terhadap perubahan lingkungan, polusi udara, dan hilangnya habitat.
Studi terakhir yang saya buat bersama tim di Jurnal Biodiversitas berhasil mencatat 50 jenis kupu-kupu penghuni habitat-habitat yang tersisa (ruang hijau) di Jabodetabek.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komposisi ragam jenisnya berbeda antarkota. Depok dan Bogor tercatat mempunyai keragaman kupu-kupu terbanyak, sementara Jakarta tercatat paling sedikit.
Selain pemetaan populasi kupu-kupu, studi ini juga merupakan wujud kesuksesan kolaborasi warga bersama ilmuwan melalui platform KupuKita. Kolaborasi seperti ini penting dalam memberikan sumbangsih berharga terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
KupuKita dan sains warga
Sebaiknya Anda baca juga:
Kupu-kupu adalah salah satu satwa yang hadir di perkotaan. Mereka dapat ditemui di taman-taman, tepi jalan, hingga pekarangan rumah. Bahkan, kadang mereka dapat terbang melintasi jalan yang ramai.
Sayangnya, kehadiran kupu-kupu di Indonesia jarang tercatat. Sejauh ini, kebanyakan platform pengamatan kupu-kupu cenderung berbahasa Inggris atau terbatas dilakukan oleh ahli maupun pengamat kupu-kupu yang telah andal.
Inilah mengapa platform KupuKita hadir. KupuKita adalah platform pemantauan kupu-kupu berbasis warga yang digagas oleh tim peneliti Research Center for Climate Change-Universitas Indonesia (RCCC-UI) serta komunitas pegiat konservasi Tambora Muda Indonesia. Lembaga penelitian biologi Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO-BIOTROP) juga turut mendukung inisiatif kami.
KupuKita dibangun pada masa pandemi (tahun 2021) yang saat itu membuat galau para peneliti akibat pembatasan sosial. Kegalauan inilah yang menjadi dasar dibangunnya platform pemantauan yang dapat dilakukan semua orang dan dapat menjangkau lokasi-lokasi yang tidak tersentuh ilmuwan (seperti halaman rumah pribadi) dengan hanya berbekal smartphone.
Platform KupuKita dapat diakses melalui situs Kupukita.org. Platform ini berbentuk kuesioner daring yang dilengkapi foto sebagai panduan.
KupuKita tidak perlu diunduh secara khusus. Kuesionernya dapat diunggah saat jaringan tersedia. Situs webnya turut memuat panduan mengamati kupu-kupu, daftar jenis kupu-kupu, daftar pengamat hingga peta sebaran kupu-kupu yang diperbarui secara berkala.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!