Investasi Bakal Terkendala Kondisi Global dan Politik
Kamis, 08 Jun 2023, 10:59 WIBJAKARTA - Kementerian Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut kondisi global juga harus menjadi perhatian selain tahun politik terkait pengaruh investasi di Indonesia.
"Kalau kita bicara mengenai genjot investasi di tahun politik, dari pengalaman kita tidak bisa hanya melihat kondisi politik karena kita banyak mengundang investasi asing, maka kondisi global juga harus menjadi perhatian kita," ucap Deputi Bidang Hilirisasi Strategis Kementerian Investasi/BKPM Heldy Satrya Putera saat menjadi pembicara kunci dalam acara Genjot Investasi di Tahun Politik di Jakarta, Rabu (7/6).
Dia mengatakan dinamika global ini sering mengancam perekonomian dunia dan hal tersebut akan berpengaruh dengan arus investasi asing. Misalnya, lanjut Heldy, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina hingga krisis energi dan pangan.
"Kita menyiapkan berbagai macam antisipasi tiba-tiba muncul pandemi Covid-19 masalah kesehatan tetapi ternyata juga pengaruh ke ekonomi dan investasi. Kemudian perang Rusia dengan Ukraina, krisis energi ini ternyata mempengaruhi bagaimana arus investasi sehingga sekarang ini bukan hanya masalah politik saja kalau dinamika global itu juga terjadi dan menggoncang perekonomian. Walaupun politik kita baik-baik saja nanti tetap arus investasinya juga akan berpengaruh besar," ujar Heldy.
Dia mencontohkan berdasarkan laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang menyebut pada 2020, investasi asing turun 30-40 persen. "Kita tahu bagaimana ekonomi di saat pandemi semua negatif, begitu juga investasi dari laporan UNCTAD pada 2020 investasi asing itu turun 30-40 persen. Dalam data kami di tahun 2020, FDI (foreign direct investment) itu minus 2,4 persen tetapi kami datanya itu di luar minyak dan gas dan sektor keuangan," kata Heldy.
Pengaruh Hiperinflasi
Selain itu, dia mengatakan hiperinflasi ternyata juga mempengaruhi arus investasi, di mana negara-negara di dunia, termasuk AS membuat kebijakan-kebijakan untuk menekan inflasi. "Bagaimana negara-negara lain pada saat mereka me-recover negaranya itu mereka membuat policy-policy untuk mengejar investasi juga. Jadi, investasi itu tidak hanya dikejar oleh negara berkembang tetapi juga negara maju," ujar Heldy.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Klok: Hanya Butuh Satu Poin Segel Gelar Juara, Peluang Persib Ada di Tangan Sendiri
-
Polda Metro Jaya Tangkap 4 Pelaku Begal yang Viral di Medsos
-
Festival Permainan Rakyat Kalbar: Merajut Keberagaman dan Perkuat Budaya dengan Tradisi Nusantara
-
Suara Tembakan di Gedung Putih, Trump Sedang di Ruang Oval
-
Apresiasi Kebijakan Kemenkeu, Bank Mandiri Siap Optimalkan Fungsi Intermediasi Perbankan
-
Jepang Gelontorkan US$3 Miliar dari Dana Cadangan untuk Subsidi Tagihan Energi
-
Media: Kerangka Kesepakatan AS-Iran telah Mencapai 95 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.