FAO Soroti Tri Hita Karana, Jadi Model Transformasi Pertanian Berkelanjutan
Senin, 22 Jun 2026, 17:55 WIBDENPASAR â Sistem pertanian berkelanjutan menjadi pendekatan penting dalam menjaga keseimbangan antara produktivitas, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani.
Model ini menekankan efisiensi penggunaan sumber daya alam, pengurangan input kimia berlebihan, serta peningkatan kesehatan tanah melalui praktik ramah lingkungan.
Dalam jangka panjang, penerapan sistem ini tidak hanya menjaga stabilitas hasil panen, tetapi juga mengurangi risiko degradasi lahan dan ketergantungan pada input eksternal.
Dengan dukungan inovasi teknologi, kebijakan yang tepat, serta peningkatan kapasitas petani, pertanian berkelanjutan dapat menjadi fondasi utama ketahanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar.
Organisasi PBB Bidang Pangan dan Pertanian (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste menjadikan filosofi masyarakat Bali Tri Hita Karana sebagai contoh dalam melaksanakan transformasi menuju sistem pertanian berkelanjutan.
âTri Hita Karana berjalan lintas generasi dan itu contoh klasik yang kami ingin dunia menyadarinya,â kata Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal secara virtual di sela Dialog Global Transformasi Padi Berkelanjutan di Sanur, Denpasar, Senin (22/6).
Tri Hita Karana merupakan kearifan lokal masyarakat Bali yang menekankan tiga konsep hubungan harmonis sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan atau hubungan spiritual.
Kearifan lokal tersebut juga menjadi landasan dalam sistem pertanian di Bali salah satunya yang dapat diamati di kawasan pertanian Subak Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, sekaligus menjadi salah satu ikon pariwisata dan situs warisan budaya tak benda dari Organisasi PBB UNESCO.
Rencananya, puluhan delegasi dari 12 negara di Asia dan Afrika yang hadir dalam dialog tersebut akan mengunjungi Subak Jatiluwih untuk mempelajari sistem pertanian berkelanjutan yang diterapkan termasuk sistem irigasi pengairan.
Ia mengatakan mengingat ketersediaan sumber daya air menjadi salah satu tantangan utama dalam transformasi pertanian berkelanjutan, selain upaya menekan emisi karbon, degradasi tanah dan adaptasi iklim.
âPraktik seperti penyiraman dan pengeringan bergantian bisa menurunkan emisi metana 20-30 persen sekaligus mengurangi konsumsi air,â ujar dia.
Selain pengelolaan air, ia juga menekankan tiga bidang yang berdampak besar dalam memajukan produksi padi yang rendah emisi yaitu varietas unggul dan sistem yang terintegrasi.
Kemudian, penguatan kebijakan, pembiayaan dan insentif pasar yang mendorong praktik berkelanjutan dan dapat diperluas serta memastikan transformasi pertanian bersifat inklusif melalui pemberdayaan kepada perempuan, anak muda dan kelompok rentan.
âTransformasi terjadi lebih cepat ketika negara-negara saling belajar, ketika pendekatan yang berhasil bisa diadaptasi dan ditingkatkan skalanya dan ketika tantangan diatasi secara kolektif dibandingkan dilakukan sendiri,â katanya menambahkan.
- Food and Agriculture Organization (FAO)
- pertanian berkelanjutan
- Tri Hita Karana
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kecelakaan KA Bekasi, 10 Jenazah Belum Teridentifikasi, Keluarga Diminta Cek ke RS Polri
-
Pertanian Padi Rendah Emisi Makin Dilirik
-
Evaluasi Hasil TKA Belum Merata, Dindik Jatim Genjot Literasi dan Numerasi
-
Kementerian Sosial Targetkan Investigasi Dugaan "Markup" Sepatu Tuntas 3 Pekan
-
Masuk Usia 14 Tahun, Ini Strategi Pupuk Indonesia Jaga Ketahanan Pangan Nasional
-
Rombongan Pertama Calon Jemaah Haji Terbang
-
Kekerasan Seksual di Ponpes, MUI Desak Evaluasi Relasi Kuasa Guru dan Murid di Lembaga Pendidikan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.