Sampah Jadi Rebutan Investor Asing, Solo Raya Masuk Radar Investasi Amerika Serikat

Senin, 03 Agu 2026, 18:10 WIB

SEMARANG – Meningkatnya minat investor asing terhadap sektor pengelolaan sampah menunjukkan bahwa industri ini semakin dipandang sebagai peluang bisnis yang menjanjikan, seiring meningkatnya kebutuhan akan solusi ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.

Selain berpotensi menarik aliran investasi dan transfer teknologi, masuknya investor dapat mempercepat pengembangan infrastruktur pengolahan sampah menjadi energi maupun bahan baku daur ulang.

Ket. Foto: Ilustrasi-Petugas melakukan pengawasan mesin pengolahan sampah menjadi energi listrik pada instalasi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Putri Cempo di Solo, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Mohammad Ayudha

Namun, realisasi investasi tetap bergantung pada kepastian regulasi, jaminan pasokan sampah, serta model bisnis yang mampu memberikan keuntungan sekaligus mendukung target pengurangan sampah nasional.

Provinsi Jawa Tengah kembali dilirik investor, kali ini perusahaan dari Amerika Serikat (AS) yang siap menggarap pengelolaan sampah di wilayah aglomerasi Solo Raya.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, di Semarang, Senin (3/8), menyebutkan investor tersebut adalah perusahaan pengolahan limbah asal AS, Energy Three International (E3i).

Ia menjelaskan bahwa pengolahan sampah di wilayah Solo Raya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Sejauh ini, kata dia, sudah ada kesepakatan untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, namun masih menyisakan permasalahan untuk mengolah timbulan sampah lama yang volumenya sangat besar.

"Saya senang sekali ada investor dari Amerika Serikat yang akan masuk. Ini kalau bisa harus terealisasi dan bisa menyelesaikan permasalahan sampah di Soloraya," katanya, saat menerima kunjungan dari perwakilan E3i Medhat Omran.

Ia mengatakan kawasan Solo Raya menghasilkan sekitar 2.944,55 ton sampah per hari, namun jumlah itu belum mampu tertangani semua.

Karena itu, kata dia, Jateng sedang mendorong pengembangan fasilitas "Waste to Fuel" di kawasan Solo Raya dengan kapasitas sekitar 1.000 ton per hari yang dilayani dari Boyolali, Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

"Sudah ada beberapa daerah aglomerasi yang MoU pengolahan sampah, seperti Kota Semarang dan Kendal yang sudah dengan Danantara. Lalu Soloraya juga, tapi itu untuk sampah baru, sampah lama masih dicarikan investor," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng Heru Djatmika menargetkan bahwa Jateng "zero sampah" pada 2028 sehingga investor diarahkan ke wilayah Solo Raya.

"Solo Raya itu sampahnya di atas 1.000 ton per hari. Investor ini masuk untuk 'waste to fuel'. Nanti tempatnya di Boyolali, sudah ada lahan 20 hektare dari kebutuhan 25 hektare," katanya.

Sementara itu, perwakilan E3i ASEAN Medhat Omran mengatakan Energy Three International merupakan perusahaan investasi pengolahan limbah menjadi biofuel dan energi yang akan membangun proyek di Solo Raya.

"Semoga proyek ini dapat terwujud di sini, yang akan bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Kita menggunakan teknologi baru dengan 'zero emission'. Jadi, ini ramah lingkungan," katanya.

Melalui proyek dan investasi perusahaan pengolahan limbah yang akan didirikan di Solo Raya, ke depan akan menempatkan Indonesia dan wilayah Jateng di peta dunia untuk energi hijau, dan proyek tersebut diperkirakan akan mempekerjakan hampir 300 orang.

"Kita juga berharap dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar fasilitas yang akan kita bangun, sehingga proyek ini akan bermanfaat bagi semua orang dalam banyak hal," katanya.

  • pengelolaan sampah
  • aglomerasi solo raya

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.