Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banyak Perempuan Korea Menolak Berkencan, Menikah dan Punya Anak, Kenapa Begitu?

📅 Kamis, 08 Jun 2023, 09:49 WIB | Oleh: Tim Penulis

Meskipun kebijakan tersebut tidak lagi diberlakukan secara resmi, sikap mendasar tentang peran gender tetap tertanam dalam kehidupan dan budaya Korea. Perempuan yang menyimpang dari menjadi ibu dan ibu rumah tangga seakan seperti menjatuhkan diri mereka ke jurang serangan publik.

Pemerintah telah membuat kuota gender di beberapa industri tertentu sebagai upaya untuk mengurai sistem kewarganegaraan gender ini.

Misalnya, beberapa posisi di pemerintahan memiliki kuota gender minimum untuk karyawan baru, dan pemerintah mendorong sektor swasta untuk menerapkan hal serupa dalam kebijakan perusahaannya. Untuk industri yang secara historis didominasi oleh laki-laki, seperti konstruksi, ada kuota untuk mempekerjakan perempuan. Sementara, di industri yang secara historis didominasi oleh perempuan, seperti pendidikan, ada kuota untuk laki-laki.

Dalam beberapa hal, upaya ini dapat memperburuk keadaan. Setiap gender jadi merasa seolah-olah mendapat perlakuan khusus karena kebijakan afirmatif ini. Ini membuat "permusuhan" makin membara.

'Generasi yang menyerah'

Saat ini, persaingan antara laki-laki dan perempuan muda diperburuk oleh melonjaknya biaya hidup dan pengangguran yang merajalela.

Disebut sebagai "Generasi N-Po," yang secara kasar diterjemahkan sebagai "generasi yang menyerah", banyak anak muda Korea tidak berpikir bahwa mereka dapat mencapai tolak ukur tertentu yang dianggap biasa oleh generasi sebelumnya: menikah, memiliki anak, mencari pekerjaan, memiliki rumah, dan bahkan menjalin persahabatan.

Meskipun semua gender ikut merasa putus asa, tindakan "menyerah" ini telah menyebabkan lebih banyak masalah bagi perempuan. Laki-laki melihat perempuan yang tidak mau menikah dan memiliki anak sebagai orang yang egois. Dan ketika mereka mencoba bersaing dengan laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan, beberapa laki-laki menjadi marah.

Banyak laki-laki yang menjadi radikal melakukan kejahatan seks digital untuk membalas dendam pada perempuan yang, menurut pandangan mereka, telah meninggalkan kodratnya.

Pada akhirnya, dinamika persaingan yang diciptakan oleh pemerintah Korea yang menganut kewarganegaraan gender telah memicu perang gender yang ganas antara laki-laki dan perempuan di Korea, dengan kejahatan seks digital digunakan sebagai amunisi.

Gerakan 4B, yakni ketika perempuan Korea menolak berkencan, menikah, dan memiliki anak dengan pasangan heteroseksual, mewakili eskalasi radikal perang gender dengan berusaha menciptakan dunia online dan offline tanpa laki-laki. Alih-alih terlibat pertengkaran, para perempuan ini menolak untuk berinteraksi dengan laki-laki, titik.

Kejahatan seks digital adalah masalah global

Yang pasti, kejahatan seks digital tidak hanya terjadi di Korea.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Pemeriksaan Kondisi Lapanga...
Nasional
Serius Ada Cadangan Beras 4...
Advertisement
7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.