Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Akses Digital Masih Timpang di ASEAN, Perlu Investasi Dukung MEA yang Inklusif

📅 Minggu, 04 Jun 2023, 12:42 WIB | Oleh: Tim Penulis
Akses Digital Masih Timpang di ASEAN, Perlu Investasi Dukung MEA yang Inklusif Doc: The Conversation/Shutterstock/Cinemanikor
Ket. Ilustrasi.

Alexander Michael Tjahjadi, Article 33

Pesatnya pertumbuhan dan pemanfaatan teknologi informasi secara luas di berbagai sektor telah mengubah kehidupan kita dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Akses terhadap informasi dan komunikasi, serta kesempatan untuk belajar dan berkarya, menjadi sangat terbuka dan tidak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu.

Namun, di tingkat kawasan Asia Tenggara, masih banyak masyarakat yang belum dapat merasakan manfaat ini.

Meskipun terjadi peningkatan jumlah pengguna internet dalam beberapa tahun terakhir ini, masih ada kesenjangan yang sangat signifikan pada penggunaan internet dan cakupan jaringan LTE atau 4G di kawasan Asia Tenggara. Sekretariat ASEAN mencatat bahwa hingga 2019, kurang dari 70% rumah tangga di Kamboja, Vietnam, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Thailand menggunakan internet -- walaupun rata-rata cakupan jaringan LTE di negara-negara tersebut sudah mencapai lebih dari 90%.

Tercapainya kesetaraan akses digital bagi semua orang merupakan elemen yang sangat penting dalam menjunjung tinggi hak asasi setiap manusia untuk memiliki kesempatan yang sama dalam belajar dan berpartisipasi di dunia digital. Namun, kesenjangan investasi dan kapasitas digital dalam mengakses membuat pertumbuhan ekonomi di kawasan tidak optimal.

Ini tentunya bertentangan dengan [semangat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)](https://meaindonesia.ekon.go.id/mea/#:~:text=Masyarakat%20Ekonomi%20ASEAN%20(ASEAN%20Economic,pertumbuhan%20ekonomi%20untuk%20mencapai%20kemakmuran) untuk mewujudkan perekonomian yang terintegrasi, terkoneksi, berdaya saing, dan inovatif. Pada gilirannya, kesenjangan tersebut membatasi bisnis untuk berkembang.

Kesenjangan digital dan potensinya dalam perekonomian ASEAN

Temuan Sekretariat ASEAN menggarisbawahi kurangnya investasi infrastruktur digital dan literasi sebagai dua faktor penghambat utama dalam merealisasikan potensi digital di kawasan ASEAN.

Investasi sebagian besar negara anggota ASEAN di sektor telekomunikasi juga masih tergolong rendah dan timpang, apabila dibandingkan dengan Singapura sebagai negara dengan investasi telekomunikasi terbesar di kawasan ASEAN. Per 2019, Singapura mengalokasikan US$157 (Rp 2,35 juta) per kapita untuk investasi di sektor telekomunikasi. Sementara, negara-negara ASEAN lainnya secara rata-rata hanya menginvestasikan sebesar US$27,5 per kapita. Kondisi ini menciptakan potensi terjadinya ketimpangan digital di kawasan ASEAN.

Berdasarkan catatan World Economic Forum (WEF) pada 2019, enam negara di ASEAN memiliki skor kecakapan digital di bawah 5,0 dari skala tertinggi 7,0.

Kecakapan digital merupakan hal yang dilihat dan berpengaruh kepada sisi kompetitif digital. Hanya penduduk yang memiliki kemampuan untuk mengakses teknologi informasi dapat bekerja di sektor tersebut. Bahkan, hal ini juga mempengaruhi tingkat investasi digital di suatu negara.

Padahal sektor digital berperan penting dalam perekonomian ASEAN. Perekonomian digital bisa memberi lapangan pekerjaan dan mempermudah integrasi kawasan dengan lebih baik.

Salah satu yang patut dicermati adalah inklusivitas keuangan sebagai pintu masuk perekonomian digital. Lewat inklusivitas, ASEAN berharap bahwa identitas sebagai komunitas ekonomi semakin terbentuk.

Kesenjangan digital ini dapat berdampak pada partisipasi mereka di ranah keuangan. Dengan semakin menjamurnya perkembangan layanan teknologi finansial, keadaan ini perlu kita imbangi dengan kemampuan literasi digital masyarakat yang memadai agar masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan dengan nyaman dan aman. Perlu kita sadari bahwa sistem keuangan digital merupakan salah satu solusi yang paling menjanjikan untuk menjangkau mereka yang belum berpartisipasi dalam sistem keuangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.