Duurstede, Saksi Perlawanan Pattimura di Saparua
📅 Sabtu, 03 Jun 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Saparua dahulu kala pernah menjadi lokasi perlawanan rakyat Maluku melawan aturan Belanda yang sewenang-wenang. Aksi heroik pimpinan Kapitan Pattimura, berhasil merebut "Duurstede", sebuah benteng pertahanan, yang kemudian berhasil mengguncangkan posisi Belanda.
Saparua, sebuah pulau kecil seluas 247 kilometer persegi, pernah menjadi saksi bagi kehadiran bangsa asing seperti Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Pulau kaya rempah berupa pala dan cengkeh ini, ideal bagi pusat perdagangan karena pelabuhannya yang berada di teluk cukup tenang ketika angin barat bertiup.
Ketika Portugis datang, mereka mendirikan benteng di tepi pantai di teluk itu. Saat Belanda mengusir Portugis, benteng ini kemudian dibangun kembali oleh Arnold de Vlaming van Oudtshoorn, Gubernur Hindia Belanda di Maluku pada 1676. Pembangunan benteng ini dilanjutkan oleh Gubernur Nicolaas Schaghen pada 1691 dan Schaghen kemudian menamai benteng ini denganDuurstedeyang artinya "kota mahal."
Benteng Duurstede yang indah dan megah juga menjadi saksi perlawanan heroik rakyat Saparua melawan Belanda atau yang dikenal dengan Perang Saparua. Dipimpin oleh Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura, perlawanan rakyat ini berlangsung selama dua hari antara 15-16 Mei 1817. Dalam perlawanan itu, benteng pertahanan Belanda itu berhasil direbut rakyat Maluku.
Selain merebut benteng itu, rakyat membunuh Residen Johannes Rudolph van den Berg dan hampir semua warga Belanda. Satu-satunya orang Belanda yang selamat adalah putra Van den Berg yang baru berusia lima tahun, Jean Lubbert van den Berg.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dikuasainya Benteng Duurstede semakin mengobarkan semangat perlawanan dari berbagai wilayah di Kepulauan Maluku, seperti Ambon, Seram, Hitu, selain Saparua sendiri. Pada 20 Mei 1817, diadakan rapat raksasa di Haria untuk mengadakan pernyataan kebulatan tekad melanjutkan perjuangan melawan Belanda.
Peringatan kebulatan tekad tesebut dikenal dengan nama Proklamasi Porto Haria yang berisi 14 pasal pernyataan dan ditandatangani oleh 21 raja patih dari Pulau Saparua dan Nusalaut. Proklamasi itu membangkitkan semangat juang yang mendorong tumbuhnya front-front pertempuran di berbagai tempat bahkan sampai ke Maluku Utara.
Patimura yang dikukuhkan sebagai Kapiten Besar dalam rapat raksasa melalui upacara adat, kemudian memilih beberapa orang untuk membantunya berjuang melawan Belanda. Mereka adalah Anthoni Rhebok, Philips Latumahina, Lucas Selano, Arong Lisapaly, Melchior Kesaulya dan Sarasa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengapa rakyat Maluku marah? Menurut catatan sejarah, Inggris meninggalkan wilayah itu setelah berada di sana antara antara 1796 dan 1816. Namun setelah perjanjian Traktat London pada 1814, Belanda kembali mengambil alih Maluku dari tangan Inggris. Kehadiran Belanda dengan aturan yang menekan, membuat rakyat marah.
Rakyat Maluku merasa tertindas dan menderita karena dipaksa menyediakan kebutuhan makanan untuk kapal perang Belanda. Bahkan ada aturan yang memaksa pemuda di Maluku untuk ikut berperang bersama Belanda. Sikap sewenang-wenang dari Residen Van den Berg membuat rakyat semakin marah.
Para tokoh dan pemuda di Maluku merasa tidak puas dengan kebijakan Belanda akhirnya membuat pertemuan rahasia untuk menyusun perlawanan. Di antaranya pertemuan itu dilakukan di Pulau Haruku dan di Pulau Saparua pada 14 Mei 1817, sebelum penyerangan Benteng Duurstede dilakukan.
Padamkan Perlawanan
Direbutnya Benteng Duurstede oleh rakyat Maluku membuat kedudukan Belanda di Ambon dan Batavia guncang. Namun karena rempah, penjajah itu kemudian mengerahkan armada yang sangat besar untuk memadamkan perlawanan rakyat.
Dengan bantuan Raja Ternate dan Tidore, Belanda melakukan penguasaan dan vandalisme yang dipimpin oleh Komisaris Jenderal AA Buyskers. Strategi tersebut ternyata cukup berhasil sehingga Pattimura beserta pasukannya terdesak ke hutan sagu dan pegunungan, hingga akhirnya Kapitan Pattimura beserta tiga orang panglima berhasil ditangkap.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!